bugar

Bisakah Karyawan Mengambil Cuti Sakit karena Burnout, dan Kapan Waktu Terbaik untuk Cuti?

Rabu, 20 September 2023 | 19:10 WIB
Ilustrasi: Burnout, depresi, dan kecemasan, merupakan diagnosis medis yang nyata. Ajukan cuti sakit jika kamu mengalami burnout. (Freepik/Pressfoto)

PejuangKantoran.com - Sudah banyak pembahasan yang menyebut bahwa kesehatan mental sangat berdampak terhadap kesehatan fisik. Namun, masih ada orang yang takut mengambil cuti kerja demi kesehatan mentalnya.

Kamu perlu tahu bahwa burnout, depresi, dan kecemasan, merupakan diagnosis medis yang nyata. Jadi, kamu bisa menggunakan waktu sakit atau waktu istirahat pribadi jika diperlukan.

Namun, kamu perlu tahu dulu apa gejala dari masalah kesehatan mental yang dialami. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan burnout sebagai “sindrom yang dikonsepsikan akibat dari stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola.”

Baca Juga: Belajar dari Para Atlet Tenis Terkenal, Ini 4 Cara Mereka Menghadapi Tekanan

Ciri-ciri burnout adalah:

• Perasaan berkurangnya energi atau kelelahan.
• Meningkatnya perasaan negatif terhadap pekerjaan.
• Berkurangnya kemampuan profesional.
• Takut berangkat kerja, dan di kantor terus menghitung waktu kapan bisa pulang.
• Lebih sulit untuk fokus pada tugas yang ada.
• Burnout dapat menyebabkan gejala fisik seperti insomnia, sakit kepala, sakit perut, mual, dan melemahnya sistem kekebalan tubuh.
• Jika kamu merasa mengalami salah satu dari ciri-ciri di atas, mungkin inilah saatnya untuk mengambil cuti.

Bisakah mengambil cuti untuk masalah kesehatan mental?

Menurut Danielle Dahl, izin cuti kerja berlaku untuk kesehatan mental. Karyawan dapat menggunakan cuti sakit untuk penyakit pribadi, perawatan kesehatan, serta janji dengan dokter gigi.

Cuti sakit juga dapat digunakan untuk penyakit dan perawatan bagi anggota keluarga dekat karyawan, seperti pasangan, anak, ibu, dan ayah karyawan.

Manajer atau atasan harus langsung mematuhi kebijakan tersebut. Lagipula kamu sebenarnya tidak diharuskan untuk mengungkapkan alasan ketika meminta cuti kerja.

Baca Juga: Bisakah Karyawan Izin Sakit tanpa Surat Dokter, dan Pilih Istirahat di Rumah Saja?

Jika kamu meminta untuk menggunakan waktu sakit selama lebih dari tiga hari kerja berturut-turut, kamu mungkin diminta untuk memberikan surat keterangan dari dokter.

Sayangnya, terkadang budaya dalam suatu perusahaan tidak sejalan dengan kebijakan yang ditetapkan secara keseluruhan. Itulah mengapa tidak nyaman rasanya mengambil cuti ketika ada orang lain yang akan mengatakan hal-hal negatif tentangnya.

Namun, selama kamu mengikuti pedoman kebijakan perusahaan, kamu tidak dapat dihukum.

Waktu terbaik mengambil cuti sakit

Halaman:

Tags

Terkini