Pejuangkantoran.com – Olah raga yang saat ini sedang disukai banyak orang adalah lari dan padel. Bahkan, perkembangan padel di Indonesia termasuk salah satu yang paling pesat di dunia.
Seperti yang dikutip dari Liputan6.com, Indonesia kini menduduki peringkat ke-6 sebagai negara dengan perkembangan padel paling pesat di Asia Tenggara dan ke-29 di dunia menurut The International Padel Federation (FIP).
Bahkan padel juga masuk dalam daftar cabang olahraga eksibisi di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024.
Orang berbondong-bondong bermain padel. Ada yang serius bermain padel, namun tak sedikit juga bermain padel karena olah raga raket ini sedang banyak diomongin alias FOMO.
Yang juga tak kalah banyak, mereka yang yang bermain padel karena FOMO ini sebelumnya tak aktif olah raga sama sekali, Alasannya, selain karena FOMO, beberapa berpendapat bahwa padel lebih ringan dibanding lari.
Benarkah padel lebih ringan daripada olah raga lari?
Bisa jadi orang yang sebelumnya tak aktif berolah raga ini melihat lari hanya pada event-event marathon, bahkan ultramarathon. Namun jika melihat olah raga lari pada jenis jogging yang lebih santai, rasanya pendapat bahwa padel lebih ringan daripada lari bisa sangat salah.
Baca Juga: Program Latihan Endurance Untuk Padel dengan 5 Macam Bentuk dan Tujuan Latihan
Lari Dalah Dasar Olah Raga Fisik
Olah raga lari bisa dibilang sebagai dasar dari semua olah raga yang membutuhkan gerakan tubuh yang aktif.
Bahkan WHO dan UNESCO dalam Global Physical Activity Guidelines, 2010; Quality Physical Education Guidelines (2015), menekankan pentingnya penguasaan keterampilan locomotor.
Locomotor adalah istilah dalam ilmu gerak (motor development) yang merujuk pada gerakan tubuh untuk berpindah tempat dari satu titik ke titik lain. Yang termasuk keterampilan locomotor adalah lari, sebagai dasar partisipasi aktif dalam berbagai jenis olah raga.
Olah raga lari memberikan dasar kekuatan otot jantung, melancarkan aliran darah, dan meningaktkan kapasitas paru-paru. Selain itu, lari juga memberikan dasar pada tubuh dalam stamina, daya tahan otot, dan fleksibiltas sendi.
Hal ini juga ditegaskan oleh American Heart Association dan Mayo Clinic bahwa lari dengan pace (kecepatan) rendah dan durasi pendek, memberikan manfaat kardiovaskular tanpa terlalu membebani sendi.