PejuangKantoran.com - Burnout adalah masalah serius di tempat kerja bagi semua gender, ras, etnis, dan jenis pekerjaan.
Namun, risiko burnout pada perempuan ternyata lebih tinggi dibandingkan rekan kerja mereka yang laki-laki.
Terbukti, sekitar 44% karyawan perempuan di AS mengatakan bahwa mereka kehabisan tenaga karena beban kerja. Sementara itu, hanya 36% karyawan laki-laki yang merasakan hal yang sama, demikian menurut data baru dari LinkedIn.
Baca Juga: Survei Deloitte: Gen Z dan Milenial Menyukai AI Generatif di Dunia Kerja, tapi juga Khawatir
Kesenjangan tersebut bahkan semakin melebar dibandingkan selama pandemi. Penelitian dari Gallup ketika itu menunjukkan, pada tahun 2019 sebanyak 30% perempuan dan 27% laki-laki mengatakan mereka “selalu” atau “sangat sering” kelelahan di tempat kerja.
Faktor utama yang terkait dengan kelelahan di kalangan karyawan perempuan adalah karena mereka memiliki keseimbangan kehidupan kerja yang buruk, otonomi yang lebih rendah dibandingkan rekan kerja laki-laki, dan diskriminasi gender secara struktural.
Catherine Fisher, pakar karir di LinkedIn, mengatakan bahwa kesenjangan antara burnout pada perempuan dan laki-laki kemungkinan besar disebabkan karena perempuan diharapkan bekerja penuh waktu dan memikul sebagian besar tanggung jawab rumah tangga.
“Sering kali perempuan harus menyeimbangkan kehidupan (pribadi) dan kehidupan kerja,” katanya.
Perempuan adalah pihak yang paling terkena dampak dari kelelahan, dan hal ini merupakan masalah yang mengganggu tempat kerja di seluruh dunia. Karena ada konsekuensi serius bagi perusahaan ketika tekanan menjadi terlalu besar.
Dua dari 10 karyawan di AS berpikir untuk berhenti dari pekerjaan mereka setiap hari, dan 90% melamar pekerjaan apa saja dalam setengah tahun terakhir karena kelelahan dan rasa marah, begitu menurut data dari MyPerfectResume.
Baca Juga: Lowongan Kerja Sebagai Talent Development Manager 25hours Hotel di Jakarta
Dalam beberapa hal, saat ini perempuan lebih sejahtera dalam karir mereka dibandingkan sebelumnya, namun mereka sering merasa kurang mendapat dukungan.
Hal ini karena perempuan menghadapi hambatan serius karena beban kerja dan harapan sosial.
Fisher mengatakan bahwa menetapkan batasan dan benar-benar menerapkan cara kerja yang baru adalah hal yang paling penting.
Pakar lain menyarankan, untuk mencegah burnout pada perempuan maupun laki-laki, mereka perlu mengurangi pekerjaan, menolak tugas tambahan, dan tidak melakukan pekerjaan lagi di luar jam kerja reguler.
Artikel Terkait
Universitas di China Buka Jurusan Khusus Teknik Kopi, Siapa Mau Daftar?
Pantesan Nyengir, Justin Bieber Dibayar Paling Mahal untuk Pesta Anant Ambani-Radhika Merchant
5 Juli 2024, Penumpang Kereta Whoosh Pecah Rekor Sampai 23 Ribu Orang
John Legend Bakal Konser di Jakarta, Ini Harga Tiket dan Cara Pesannya
Buat yang Ingin Jadi Jurnalis, Bloomberg Buka Lowongan Kerja Jadi Markets Reporter
Arab Saudi Ingin Merekrut Lebih Banyak Perempuan Di Dunia Kerja, Khususnya Pariwisata
Lowongan Kerja Travel Consultant di Mister Aladin, Khusus buat yang Punya Banyak Relasi