PejuangKantoran.com - Sepertinya tak ada yang salah jika memberi tahu orang lain tentang rencana besar kamu. Budaya orang Indonesia adalah meminta doa dari banyak orang agar rencana tersebut bisa dengan lancar terlaksana.
Namun, pada kenyataannya sikap tersebut justru bisa menjadi bumerang dengan cara yang mengejutkan.
Meski belum mulai mengambil langkah nyata, tetapi ada kepuasan yang aneh ketika memberitahu orang lain tentang career goals atau rencana-rencana yang kamu miliki dengan lantang. Hal ini bukan hanya imajinasi.
Baca Juga: Merasa Diabaikan oleh Manajer? Ini 3 Tanda-Tanda untuk Mengetahui Benar Tidaknya Hal Tersebut
Dalam "Goal Implementation: The Benefits and Costs of If-then Planning", studinya yang dimuat di jurnal American Psychological Association (2009), psikolog Peter Gollwitzer menemukan bahwa ketika orang membagikan niat mereka di depan umum, mereka cenderung tidak menindaklanjutinya.
Mengapa? Karena berbicara tentang tujuan dapat menciptakan perasaan bahwa kamu sudah menyelesaikannya lebih cepat. Otak jadi mudah tertipu untuk berpikir bahwa validasi sosial yang kita terima adalah pengganti pencapaian yang sebenarnya.
Validasi eksternal dapat menggagalkan rencana
Menceritakan rencana kamu dengan orang lain pada dasarnya mengekspresikan keinginan kamu agar diterima oleh orang lain.
Manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial. Jadi, ketika orang lain memuji rencana kamu, akan muncul perasaan senang dalam diri kamu.
Sebenarnya, tidak ada salahnya menginginkan dukungan dari orang lain. Namun, terlalu mengandalkan validasi dari orang lain dapat membuat kamu jadi lebih mengejar pandangan orang lain, bukan keinginan tulus untuk mencapai sesuatu.
Baca Juga: Agar Terhindar dari Smishing, Nasabah BRI Diimbau untuk Jaga Kerahasiaan Transaksi Perbankan
Feedback negatif dapat merusak momentum
Kamu mungkin membayangkan akan mendapatkan dukungan saat menceritakan rencana yang kamu miliki. Faktanya, tidak semua orang akan merespons dengan cara yang positif.
Beberapa orang mungkin meremehkan rencana kamu karena tidak memahaminya, atau memproyeksikan ketakutan dan rasa tidak aman dirinya kepada kamu.
Ini membuat kegembiraan awal yang kamu rasakan bisa dengan cepat membuat kamu berubah mempertanyakan diri sendiri: “Bisa nggak ya, aku benar-benar melakukannya?”
Artikel Terkait
Apakah Kamu Perlu Mencuci Pakaian Baru Sebelum Dipakai? Ini Jawabannya
Orang yang Benar-Benar Kaya Secara Finansial Tidak Suka Pamer, Berikut ini 9 Tanda yang Bisa Dikenali
Selain Gaji yang Tak Sebanding Beban Kerja, Apa Lagi Alasan Karyawan Enggan Naik Jabatan?
BRI Komitmen Terapkan Prinsip ESG untuk Bisnis Berkelanjutan
Kuku Kamu Berubah Bentuk atau Warna? Waspadalah Bisa Jadi Ada yang Tidak Beres dengan Kesehatanmu!
Survei Membuktikan, Karyawan Perempuan Lebih Baik Digaji Rendah Asalkan Bisa Lebih Fleksibel saat Bekerja
Awas, Ini 8 Faktor yang Meningkatkan Risiko Seseorang Terkena Diabetes Tipe 2