Sebagai contoh, rasa takut akan memicu reaksi melawan atau lari saat menghadapi bahaya, sedangkan kemarahan bisa mendorong seseorang untuk bertindak ketika merasa ada yang tidak beres.
Namun, tidak semua reaksi terhadap kemarahan berdampak positif. Kemarahan yang tidak terkendali justru dapat memperburuk situasi, merusak hubungan, dan menghambat komunikasi yang efektif.
Ponelle memperingatkan bahwa kemarahan yang tidak dikelola dengan baik bisa merusak situasi. Jika tidak terkendali, komunikasi yang efektif menjadi hilang dan konflik yang tidak perlu dapat terjadi.
Sebaliknya, menekan kemarahan juga tidak baik karena bisa meledak pada waktu yang tidak tepat atau bahkan menjadi tindakan yang merugikan.
Baca Juga: Bukannya Marah, Ini 7 Kebiasaan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Menerima Kritik
Menyalurkan kemarahan secara positif
Di tempat kerja, penting untuk mengetahui bagaimana menyalurkan kemarahan secara sehat dan konstruktif.
Neuropsikolog Sylvie Chokroun mengamati bahwa wanita seringkali dianggap lebih emosional saat marah dibandingkan pria.
Padahal, wanita justru cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mengendalikan emosi dan berpikir jernih saat menghadapi situasi yang memicu kemarahan. Sementara pria sering kali bereaksi dengan impulsif.
Untuk menyalurkan kemarahan secara positif, banyak pakar merekomendasikan pendekatan Nonviolent Communication (NVC) atau Komunikasi Tanpa Kekerasan.
Ini adalah metode komunikasi yang menekankan pada penyampaian perasaan dan kebutuhan secara jelas tanpa menyalahkan atau menyerang pihak lain, yang meliputi langkah-langkah berikut.
- Mengamati situasi tanpa menilai.
- Menentukan perasaan yang timbul dari pengamatan tersebut.
- Menyampaikan kebutuhan yang menjadi dasar perasaan tersebut.
- Mengajukan permintaan yang jelas untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Dengan menerapkan NVC, kemarahan dapat diungkapkan secara konstruktif yang memungkinkan diskusi membangun dan solusi yang saling menguntungkan.
Jadi, dengan mengelola kemarahan dengan baik, ini bukan hanya dapat meningkatkan kinerja, tetapi juga memperkuat hubungan antar rekan kerja. (Elga Windasari)
Artikel Terkait
Contoh Bahasa Defensif yang Perlu Dihindari Saat Menghadapi Pelanggan atau Klien yang Marah
Apakah Boleh Pelamar Keberatan Langsung Ditelepon oleh HRD? Wajarkah Jika HRD Balik Marah?
Begini Cara Menyampaikan pada Atasan Ketika Meminta Kenaikan Gaji, yang Penting Jangan Emosi!
Amarah Hanya Akan Menimbulkan Dampak Buruk di Tempat Kerja. Ini yang Harus Kamu Lakukan!
Saat Dinilai Negatif Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi Tak Bakal Marah, Ini 7 Kebiasaan Lainnya!
Karena Pembelian Juga Didasarkan Emosi dan Persepsi, Ini 9 Konsep Neuromarketing yang Harus Diketahui