Atasan Perlu Menentukan Prioritas, biar Nggak Semua Tugas Dianggap Penting dan Karyawan Stres

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Jumat, 9 Mei 2025 | 09:19 WIB
Ilustrasi: Atasan perlu menentukan prioritas dari tugas-tugas yang ada, jangan sampai semua dianggap penting. (Freepik/Pressfoto)
Ilustrasi: Atasan perlu menentukan prioritas dari tugas-tugas yang ada, jangan sampai semua dianggap penting. (Freepik/Pressfoto)

David Burkus, psikolog organisasi dan penulis Leading From Anywhere, mengatakan bahwa salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan seorang pemimpin adalah mengomunikasikannya.

"Orang membutuhkan lebih dari sekadar daftar tugas, tetapi daftar untuk memutuskan," katanya.

Baca Juga: 10 Jabatan dan Industri dengan Pertumbuhan Tercepat di Indonesia

Kejelasan seperti itu memungkinkan karyawan untuk mengevaluasi pekerjaan dengan percaya diri, dan menyelaraskan energinya dengan hasil yang tepat.

Ketika atasan menentukan prioritas bersama dan secara teratur meninjaunya kembali, ini akan memudahkan karyawan untuk membedakan antara permintaan mendesak dan pekerjaan yang bermakna.

Selain itu, cara ini juga mendorong tim untuk mendelegasikan tugas, berkolaborasi, dan menggunakan waktu dengan lebih baik.

Prioritas adalah keterampilan yang layak dimiliki

Pemimpin yang memperlakukan prioritas di tempat kerja sebagai keterampilan yang dapat diajarkan, mampu menyiapkan timnya untuk kesuksesan yang lebih besar.

Baca Juga: 6 Kebiasaan Baby Boomer yang Membuat Iri dan Ingin Dipelajari Gen Z, Salah Satunya Slow Living

Semuanya dimulai dengan kejelasan, lalu dilanjutkan dengan percakapan yang berani, dan diakhiri dengan kepercayaan diri untuk fokus pada pekerjaan yang paling penting.

Ingat, jika semuanya terasa mendesak, sebenarnya tidak ada yang benar-benar mendesak. Hanya perlu kebijakan untuk bisa memilih pekerjaan mana yang lebih harus diprioritaskan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X