Penilaian 360 Derajat Kerap Dianggap Tidak Adil oleh Karyawan, Konon Bisa Jadi Ajang Balas Dendam. Benarkah?

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 10 Mei 2025 | 10:17 WIB
360-degrees assessment kerap dianggap menjadi sarana balas dendam pribadi. (ruslanmarselin)
360-degrees assessment kerap dianggap menjadi sarana balas dendam pribadi. (ruslanmarselin)

Pejuangkantoran.com - Pernahkah kamu mendengar tentang 360 degrees assessment atau penilaian 360 derajat?

Digunakan untuk feedback, pengembangan, dan manajemen kinerja karyawan, ini merupakan proses penilaian kinerja individu yang diberikan oleh manajer, bawahan langsung, dan rekan kerja secara anonim.

Cara ini sudah digunakan secara luas oleh SDM, terutama di perusahaan besar. Namun, sebagian besar karyawan kecewa dengan penilaian 360 derajat ini.

Bisa menimbulkan bias dan ketidakadilan

Penilaian 360 derajat ini dirancang untuk mengumpulkan feedback atau membantu manajer memberikan tinjauan kinerja yang komprehensif.

Namun, survei baru-baru ini dari LiveCareer menunjukkan bahwa banyak pekerja percaya model tersebut memperkuat bias pribadi dan politik di tempat kerja.

LiveCareer mencatat bahwa 79% dari 1.000 pekerja yang disurvei memilih keluar dari feedback 360 derajat jika diberi pilihan. Sementara 74% dari mereka mengatakan bahwa hasilnya tidak adil, bias, atau tidak akurat.

Baca Juga: Penilaian Kerja Tak Hanya Membuat Cemas Karyawan, Tapi Juga Manajer. Ini Cara Mengatasinya!

Berikut adalah hasil surveinya:

  • 79% karyawan mencurigai rekan kerja menggunakan feedback untuk dendam pribadi.
  • 48% percaya penilaian 360 derajat memperkuat politik kantor daripada memberikan evaluasi yang jujur.
  • 48% merasa umpan balik tercemar oleh bias pribadi.
  • 39% mengalami hubungan kerja yang tegang karena penilaian 360 derajat.
  • 35% melaporkan peningkatan stres dan keraguan diri.
  • 30% mencatat penurunan produktivitas dan motivasi setelah penilaian 360 derajat.

Jasmine Escalera, pakar karir di LiveCareer, mengatakan bahwa meski dapat mendorong pertumbuhan dan kolaborasi, penilaian 360 derajat juga berisiko memperkuat politik kantor dan bias pribadi.

Penilaian 360 derajat tak boleh pengaruhi kompensasi

Carolyn Troyan, presiden dan CEO Leadership 360, perusahaan konsultan SDM di California, mengatakan bahwa dia tidak setuju dengan cara banyak perusahaan melakukan penilaian 360 derajat.

Salah satu ketidaksetujuannya adalah menjadikan penilaian 360 derajat untuk menentukan pemberian kompensasi.

Troyan mengatakan bahwa kompensasi sebaliknya dapat ditentukan dengan mengevaluasi keterampilan dan jabatan karyawan. Dia lebih setuju jika kemampuan belajar karyawan yang seharusnya menjadi komponen utama dari promosi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: SHRM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X