Karena jika dianggap terlalu tegas, wanita sering mendapatkan reaksi negatif karena dianggap melanggar stereotip jender yang ada.
Proses perekrutan harus lebih objektif
Ironisnya, kandidat yang menerima perhatian terkait kemampuannya sering tidak lolos seleksi. Sementara mereka yang diterima lebih sering dipuji karena kepribadian serta kesan positif yang ditampilkan.
Temuan ini menunjukkan bahwa feedback wawancara cenderung menjadi alat untuk membenarkan keputusan menolak seseorang, bukan untuk menilai kompetensi secara objektif.
Baca Juga: Selama Masih Menjadi Hak, Pekerja Ajukan Cuti Tanpa Alasan Adalah Hal Normal! Ini Benefitnya!
Snyder menegaskan bahwa mempekerjakan seseorang hanya karena merasa cocok dan nyaman bekerja sama bukanlah cara terbaik. Kriteria ini justru bisa menghilangkan kesempatan kandidat hebat yang berbeda dari mayoritas.
Temuan dari laporan Textio menunjukkan bahwa praktik wawancara kerja yang benar-benar adil dan menitikberatkan pada keterampilan kandidat masih jarang diterapkan.
Untuk ke depannya, diharapkan proses perekrutan menjadi lebih objektif. Rekruter dapat memberikan pertanyaan yang seragam kepada seluruh kandidat dengan fokus pada kompetensi yang dibutuhkan, bukan pada kesan personal atau kesamaan preferensi.
Artikel Terkait
Bukan Cuma Lansia, Anak Muda Juga Rentan Osteoporosis, Ini Cara Mencegahnya!
Mini Drama dengan Format Vertikal Lagi Digemari, Ceritanya Padat dan Pemainnya Ngetop Semua
90% Karyawan Hotel Terancam Di-PHK akibat Tingkat Okupansi Makin Menurun tapi Biaya Operasional Meningkat
Kemenaker Bakal Hapus Aturan Batas Usia untuk Para Pelamar Kerja, Supaya Tak Ada Lagi Diskriminasi
BRImo Buat Keperluan Financial saat Long Weekend Jadi Makin Tenang
Main Komedi Nyeleneh di GJLS: Ibuku Ibu-Ibu, Luna Maya Berharap Bisa Sesukses Warkop DKI
Polandia Tawarkan Beasiswa S2 berikut Tunjangan Bulanan di 108 Universitas Negeri, tanpa Batas Usia!