Bahayanya Jika Pimpinan Perusahaan Tidak Mengakui Ketidaksetaraan Gender di Tempat Kerja

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Minggu, 1 Juni 2025 | 10:59 WIB
Ilustrasi: Masih rendahnya jumlah perempuan yang menempati posisi pimpinan menunjukkan ketidaksetaraan di tempat kerja. (Freepik/Javi_Indy)
Ilustrasi: Masih rendahnya jumlah perempuan yang menempati posisi pimpinan menunjukkan ketidaksetaraan di tempat kerja. (Freepik/Javi_Indy)

PejuangKantoran.com - Meski makin banyak perusahaan yang mulai menerima keberagaman, sayangnya ketidaksetaraan di tempat kerja masih terjadi dalam berbagai cara. Khususnya untuk para perempuan.

Dibandingkan laki-laki, karyawan perempuan masih mengalami berbagai hambatan, termasuk diskriminasi, pelecehan, dan kesulitan untuk naik ke posisi pimpinan.

Namun, hal yang kadang terlihat sangat jelas ini, masih banyak saja yang menyangkal. Penyangkalan terhadap adanya masalah inilah yang sering menjadi hambatan terbesar dalam mencapai perubahan nyata.

Baca Juga: Bukan karena Gaji yang Tinggi, Ini Kesamaan Penduduk di Negara-negara Paling Bahagia di Dunia

Masih terjadi dan sering tak terlihat

Bias terhadap gender, sadar maupun tidak,  masih banyak ditemui di dunia kerja. Salah satu contohnya terlihat dari rendahnya jumlah perempuan yang memegang posisi puncak.

Di Amerika Serikat (AS), hanya 8% dari perusahaan Fortune 500 yang dipimpin oleh perempuan pada 2021. Bahkan dari segi penghasilan, perempuan rata-rata hanya menerima 84% dari penghasilan laki-laki.

Meski banyak perusahaan berupaya menjadi lebih terbuka dan adil, kemajuan sayangnya masih berjalan lambat.

Perempuan masih sering mengalami perlakuan tidak adil, yang dalam banyak kasus terjadi secara menyeluruh dalam sistem dunia kerja.

Namun, yang lebih berbahaya adalah munculnya sikap menyangkal. Banyak orang, terutama para petinggi, yang percaya bahwa semua orang sudah diperlakukan adil dan perusahaan bebas dari seksisme.

Baca Juga: Bagaimana Nasib Stairlift di Candi Borobudur Usai Kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron?

Nah, sikap inilah yang sering memperkuat diskriminasi.

Penyangkalan membuat masalah semakin dalam

Penelitian dari University of Exeter dan Skidmore College menemukan bahwa penyangkalan paling kuat justru ditemukan pada orang-orang yang tidak mengakui atau menolak adanya penyimpangan.

Ini membuat mereka tanpa sadar menjadi kelompok yang berperan besar dalam mempertahankan ketidaksetaraan di tempat kerja.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Welcome to the Jungle

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X