Bukan karena Gaji yang Tinggi, Ini Kesamaan Penduduk di Negara-negara Paling Bahagia di Dunia

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Minggu, 1 Juni 2025 | 08:05 WIB
Ilustrasi: Bagaimana karakter penduduk Finlandia yang membuat negara ini menjadi negara paling bahagia di dunia? (Freepik)
Ilustrasi: Bagaimana karakter penduduk Finlandia yang membuat negara ini menjadi negara paling bahagia di dunia? (Freepik)

PejuangKantoran.com - World Happiness Report tahun ini tidak hanya mengungkapkan negara paling bahagia di dunia, tetapi juga menekankan tentang pentingnya kekuatan kebaikan.

Seperti kita ketahui, Finlandia menempati peringkat pertama World Happiness Report 2025, diikuti negara-negara Nordik lain yang langganan mendominasi posisi teratas seperti Denmark, Islandia, dan Swedia.

Ada salah satu temuan yang paling mencolok dari World Happiness Report tahun ini.

Baca Juga: Bagaimana Nasib Stairlift di Candi Borobudur Usai Kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron?

Disebutkan bahwa bahwa bersikap baik dan mengharapkan kebaikan dari orang lain merupakan prediktor kebahagiaan yang lebih kuat dibandingkan dengan menghindari kejadian negatif, seperti kejahatan atau kesulitan ekonomi.

Dengan kata lain, percaya pada niat baik orang-orang di sekitar kita bisa memberikan dampak yang lebih besar pada kesejahteraan diri daripada mendapatkan gaji yang lebih tinggi.

Itu sebabnya, negara-negara di mana penduduknya dikenal punya karakter yang baik, seperti bersedia mengembalikan dompet orang yang hilang (contohnya negara-negara Nordik), memiliki tingkat kebahagiaan tertinggi.

Keyakinan sederhana bahwa orang lain akan bertindak jujur dan sopan ternyata berkontribusi pada kepuasan hidup yang lebih besar secara keseluruhan. Intinya, kepercayaan pada orang lain bikin kebahagiaan berlipat ganda.

Bersikap baik bikin sejahtera 

Temuan ini menegaskan kembali apa yang telah lama disarankan oleh para ilmuwan sosial, yaitu kebaikan hati bermanfaat bagi pemberi dan penerima.

Baca Juga: 16 Film Indonesia yang Tayang Bulan Juni, dari The Dark House hingga Senyum Manies Love Story

Terlibat dalam tindakan kebaikan memberikan dorongan psikologis dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Orang-orang yang secara rutin melakukan kebaikan, seperti membantu orang lain, menjadi sukarelawan atau menyumbangkan uangnya, punya kepuasan hidup yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak melakukannya.

Namun, manfaatnya bukan hanya tentang perasaan senang pada saat itu saja.

Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa tindakan kedermawanan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat meningkatkan kesehatan mental dan fisik, hubungan sosial yang lebih kuat, dan bahkan umur yang lebih panjang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Gallup

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X