PejuangKantoran.com - PHK memang menyakitkan, tetapi yang sering dilupakan adalah karyawan yang memutuskan untuk bertahan.
Banyak yang tidak menyadari kalau karyawan yang bertahan juga terdampak, bahkan harus menghadapi beban kerja baru tanpa dukungan yang cukup.
Menurut survei terbaru dari Kahoot!, sebuah platform pembelajaran digital, banyak perusahaan terlalu fokus pada proses PHK dan lupa membantu karyawan yang masih ada.
Baca Juga: Meski Tak Boleh Berbohong di CV, Tapi 2 Hal Ini Masih “Diperbolehkan” dan Dianggap Wajar. Apa Itu?
Akibatnya, semangat kerja menurun akibat tekanan pekerjaan, dan kesalahan di tempat kerja meningkat.
Belajar sendiri jadi kebiasaan
Setelah PHK, mayoritas karyawan tidak mendapat pelatihan lagi sehingga mereka terpaksa belajar sendiri untuk meningkatkan keterampilan.
Dari 84% karyawan yang meluangkan waktu tiap minggu untuk memahami tanggung jawab baru, hanya 27% yang mendapat pelatihan terstruktur. Sisanya harus belajar dari rekan kerja, coba-coba, bahkan mencari info lewat YouTube dan Google.
Coba bayangkan, satu dari empat karyawan bahkan menghabiskan lebih dari empat jam seminggu hanya untuk mencari tahu cara kerja baru mereka. Ini membuat mereka harus bekerja ekstra tanpa arahan yang jelas.
Beban kerja langsung naik
Begitu PHK selesai, pekerjaan langsung menumpuk. Survei Kahoot! bahkan menyebut, 61% karyawan mengatakan beban kerja meningkat sejak hari pertama.
Sebulan kemudian, 60% dari mereka bahkan masih kewalahan dengan beban kerja baru tersebut. Sedihnya lagi, dari 42% karyawan yang mendapat tugas di luar bidangnya, mereka tetap tidak mendapatkan pelatihan.
Padahal, manajer senior lebih sering dapat pelatihan. Sementara karyawan biasa, hanya 20% yang mendapat dukungan serupa.
Hampir setengah dari karyawan yang bertahan, merasa semangatnya menurun. Beberapa mengatakan bahwa suasana yang senyap setelah PHK lebih menyakitkan daripada PHK itu sendiri.