Ingin Jadi Pemimpin yang Disukai? Tak Perlu Gaya-Gayaan, yang Penting Hadir dan Jujur!

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 12 Juli 2025 | 09:10 WIB
Ilustrasi: Untuk jadi pemimpin yang disukai, hilangkan kebiasaan bicara ngalor-ngidul. (Freepik)
Ilustrasi: Untuk jadi pemimpin yang disukai, hilangkan kebiasaan bicara ngalor-ngidul. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Sekarang ini banyak orang bilang kalau anak muda di tempat kerja –terutama Gen Z dan milenial– butuh gaya kepemimpinan yang baru, yang beda dan “radikal”.

Kenyataannya, banyak dari mereka yang nggak butuh teori kepemimpinan yang ribet. Karyawan cuma butuh hal-hal yang sederhana: kejujuran, konsistensi, kejelasan, dan rasa hormat.

Nilai-nilai ini memang terdengar “jadul”, tetapi justru makin penting di zaman sekarang.

Baca Juga: BRI Kembali Jadi Bank Terbaik di Indonesia Versi The Banker, Tembus Peringkat 114 Dunia

Di dunia kerja yang makin cepat dan penuh tekanan, pemimpin yang jujur dan membumi akan lebih dipercaya, ketimbang yang cuma jago ngomong. Itu salah satu syarat jika ingin jadi pemimpin yang disukai.

Tak butuh basa-basi, langsung to-the-point

Generasi muda sekarang tumbuh di era informasi. Mereka terbiasa melihat iklan, kampanye marketing, dan kata-kata manis yang kadang nggak jelas artinya.

Jadi, kalau ada pemimpin yang pakai banyak jargon, akronim, atau bahasa yang berputar-putar, mereka malah bingung dan lelah sendiri.

Karyawan sebenarnya hanya ingin hal sederhana: komunikasi yang jelas, pembicaraan yang nyata, dan tahu apa yang diharapkan dari mereka. Intinya, obrolan yang jujur dan to-the-point.

Jangan cuma duduk di belakang meja

Baca Juga: Karena Tidak Terukur, Kolaborasi di Tempat Kerja Jadi Lebih Sulit Dilakukan. Apa Solusinya?

Salah satu cara paling cepat kehilangan rasa hormat dari karyawan, terutama yang muda, adalah jadi bos yang cuma ngatur dari jauh.

Karyawan justru ingin pemimpin yang ikut turun ke lapangan, paham pekerjaan timnya, dan ada saat dibutuhkan.

Gaya kepemimpinan seperti itu akan menciptakan rasa kepemilikan bersama, membuat tim merasa dihargai, dan akhirnya membuat loyalitas tumbuh.

Feedback yang nggak dikasih “gula”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: The HR Director

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X