Apakah Kamu Seorang Martir di Dunia Kerja? Ini Tanda-Tanda dan Cara Mengatasinya!

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Senin, 4 Agustus 2025 | 14:18 WIB
Wasapadai kalau kamu termasuk sebagai martir kerja, sebab berhaya bagi kesehatan mental dan fisikmu. (Pejuangkantoran.com/Google Gemini)
Wasapadai kalau kamu termasuk sebagai martir kerja, sebab berhaya bagi kesehatan mental dan fisikmu. (Pejuangkantoran.com/Google Gemini)

Pejuangkantoran.com - Kamu pernah merasa tidak enak mengambil cuti karena takut pekerjaan berantakan kalau kamu tidak ada? Atau merasa bangga karena selalu sibuk dan jadi orang yang paling bisa diandalkan di kantor?

Kalau iya, bisa jadi kamu termasuk tipe martir kerja.

Martir kerja adalah orang yang merasa dirinya harus selalu ada di kantor, selalu siap sedia kapan pun dibutuhkan, dan percaya bahwa cuma dia yang bisa menyelesaikan pekerjaan dengan benar.

Mereka cenderung kerja terus-menerus, jarang istirahat, dan menganggap istirahat atau cuti itu hanya buang-buang waktu.

Padahal, kebiasaan ini bisa berbahaya buat kesehatan fisik dan mental.

Ciri-ciri seorang martir kerja

Coba cek, apakah kamu mengalami hal-hal ini:

  • Selalu jadi “penyelamat” saat ada masalah di kantor;
  • Sering lembur, bahkan tanpa diminta;
  • Susah bilang “tidak”, meskipun tugasnya bukan tanggung jawab kamu;
  • Merasa harus ambil tanggung jawab kalau orang lain nggak mau;
  • Sering berpikir, “daripada dikerjakan orang, lebih baik gue yang kerjakan”;
  • Terlalu mengontrol atau bahkan mengerjakan tugas orang lain karena takut hasilnya tidak sesuai harapan.

Baca Juga: 7 Cara Melakukan Slow Work, Langkah Kurangi Kerja Keras dan Tingkatkan Kerja Cerdas

Kalau kamu merasa beberapa poin di atas “kamu banget”, itu artinya kamu seorang martir kerja

Namun, tenang saja karena kamu tidak sendirian. Meskipun ada baiknya kamu mulai hati-hati.

Jadi martir kerja bukan berarti kamu lebih sukses, justru bisa membuat kamu cepat burnout, stres, bahkan tim ikut tertekan.

Bagaimana cara keluar dari perilaku ini?

Berikut beberapa langkah yang bisa kamu coba:

  1. Belajar bilang “tidak”

Kamu tidak harus selalu bilang “iya” ke semua tugas. Mulai belajar menolak dengan cara yang sopan dan jelas. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Payne Resilience, Dynamic Transition

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X