Menggabungkan HR dan IT dalam Satu Divisi Tidak 100 Persen Ideal, Begini Risikonya!

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 9 Agustus 2025 | 21:59 WIB
Ilustrasi: Menggabungkan tim HR dan IT akan sangat berisiko karena keduanya bekerja dengan cara berbeda. (Freepik/Wavebreak Media LTD)
Ilustrasi: Menggabungkan tim HR dan IT akan sangat berisiko karena keduanya bekerja dengan cara berbeda. (Freepik/Wavebreak Media LTD)

PejuangKantoran.com - Dulu, departemen HR punya tugas merencanakan kebutuhan tenaga kerja, lalu meminta IT membuat atau menyesuaikan sistem yang dibutuhkan. Sekarang, logikanya berubah.

Saat ini muncul tren baru di mana banyak perusahaan menggabungkan HR dan IT di bawah satu kepemimpinan. Hal itu dipicu kecenderungan oleh AI yang mengubah cara kerja secara mendasar, sehingga koordinasi keduanya harus lebih erat.

AI membuat banyak pekerjaan rutin bisa diotomatisasi, sehingga perencanaan harus melibatkan teknologi sejak awal.

Baca Juga: Tren Baru: Perusahaan Gabungkan HR dan IT di Bawah Satu Kepemimpinan, Gimana Ceritanya?

Meskipun beberapa perusahaan sudah membuktikan kesuksesan dari kebijakan menggabungkan HR dan IT, upaya ini bukannya 100% ideal dan tidak menimbulkan kendala.

"Membuat orang berbicara dalam bahasa yang sama adalah bagian tersulit, karena tim IT dan HR itu sangat berbeda," kata Fabio Sattolo, Chief People and Technology Officer dari Covisian.

Menurutnya, tim HR memang cenderung menjadi pendengar yang baik, namun di sisi lain tim IT tidak selalu pandai berbicara.

"Saya ingat seringkali waktu rapat saya harus mengajukan banyak pertanyaan karena mereka tidak saling berbicara," ujarnya lagi.

Untuk membantu tim HR dan IT bekerja sama, Fabio menunjuk orang-orang yang tidak terkait erat dengan kedua disiplin ilmu untuk memimpin tim multidisiplin.

"Ini seperti hakim yang membuat mereka bernegosiasi untuk dapat menemukan solusi yang tepat," ujarnya.

Baca Juga: Jakarta Intercultural School (JIS) Buka Lowongan Kerja Performing Arts Departmental Assistant

Cara kerja berbeda

Bunq adalah contoh perusahaan lain yang menggabungkan HR dan IT dalam satu payung organisasi. Bank online dengan lebih dari 700 karyawan ini meyakini kedua departemen tersebut sama-sama membangun sistem untuk mendukung bisnis.

Targetnya ambisius: 90% operasi otomatis di akhir 2025, tanpa melakukan PHK.

"Di perusahaan mana pun, orang-orang perlu memahami bahwa mereka perlu bekerja dengan cara yang benar-benar berbeda ke depannya," ujar Bianca Zwart, Chief Strategy Officer Bunq.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: BBC

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X