PejuangKantoran.com - Hari gini, ChatGPT memang sudah menjadi bagian dari aktivitas kita sehari-hari. Kalau lagi cari info penting atau butuh bantuan untuk membuat notulensi meeting dari coretan-coretan di notepad, kamu langsung buka ChatGPT.
Jawaban yang rinci, lengkap dengan rekomendasi vendor atau opsi sesuai permintaan kamu akan diberikan dalam waktu singkat. Beda banget sama Google yang biasanya memberi daftar link yang panjang dan harus dibuka satu-satu untuk mencari info yang pas.
Pengalaman semacam itu ternyata bukan hanya dirasakan oleh kita-kita. Sebuah studi terbaru dari Bospar menunjukkan bahwa para pejabat level eksekutif di perusahaan justru lebih rajin pakai AI dibanding staf biasa.
Baca Juga: Ini Makna dan Cara Membuat Foto Pink Hijau yang Jadi Simbol Solidaritas Warganet
Angkanya lumayan bikin kaget: 94% CEO aktif memakai AI, sementara karyawan level staf yang pakai baru 49%. Bahkan, 84% eksekutif membuat keputusan pembelian produk berdasarkan rekomendasi AI.
Ada 5 alasan utama mengapa bos rajin pakai ChatGPT daripada karyawan:
1. Bos-bos percaya AI bisa dimanfaatkan untuk membuat keputusan besar
Kalau biasanya kita berpikir AI dipakai untuk membuat notulensi meeting atau membantu bikin draft presentasi, ternyata bos-bos langsung naik ke level berikutnya: pakai AI untuk membuat keputusan multimiliar. Dari memilih vendor sampai menghitung risiko, AI udah jadi “asisten pribadi” mereka.
“Eksekutif dengan budget besar sudah bertanya ke AI tentang vendor mana yang layak dipertimbangkan. Jawaban AI tidak mengada-ada. Mereka ngutip sumber-sumber kredibel.
"Kalau kompetitor kamu muncul di situ, artinya mereka sudah bangun kredibilitas di media yang dipercaya eksekutif,” terang Curtis Sparrer, Co-Founder Bospar.
2. Saluran penjualan yang mulai hilang
Dulu, sales mesti rajin cold call, presentasi, sampai pitching ke banyak orang. Sekarang saluran tersebut makin pendek. Para chief langsung tanya ke AI, dan sering kali beli dari rekomendasi pertama.
“Kita semua tahu ini bakal datang. Perjalanan pembeli bukan sekadar berubah, tapi benar-benar didisrupsi secara real time," ujar David Armano, eksekutif di NTT Data.
3. AI lebih cepat daripada Google
Artikel Terkait
Gas Air Mata di Unpas dan Unisba: Polisi Bilang Tertiup Angin, Kampus Sebut Ada 48 Tembakan
Cara Turun Demo ke Jalan dengan Bijak ala Dino Augusto, Jangan Nekat di Zona Merah!
Cara Media Asing Melihat Demo Indonesia, Mulai dari Frustrasi Rakyat sampai Janji Prabowo
Drama Hilangnya Kucing Uya Kuya yang 'Dijarah', Diselamatkan Cat Lover hingga Artis Sherina Munaf
Eko Patrio Masih Cari River, Satu Kucingnya Sudah Aman bersama Dewi Perssik
Nggak Pede Diminta Nyanyi, Pangeran Lantang Gemetar Saat Rekaman Film 'Agape: The Unconditional Love'
Awas, Jangan Kegocek Penipuan Pesan Berisi Video Demo yang Ternyata File APK Berbahaya!