Supaya Betah Kerja dan Tidak Mudah Resign, Pilih Budaya Kerja yang Sesuai Gaya Hidup Kamu

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Selasa, 9 September 2025 | 15:08 WIB
Sesuaikan budaya kerja dengan gaya hidup kamu, salah satunya adalah budaya yag menuntut kamu berinovasi dan berpola pikir out of the box. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Sesuaikan budaya kerja dengan gaya hidup kamu, salah satunya adalah budaya yag menuntut kamu berinovasi dan berpola pikir out of the box. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com - Bayangkan setiap tempat kerja seperti negara sendiri. Ada aturan, kebiasaan, dan cara main yang berbeda-beda.

Misalnya, kalau kamu pergi ke Jepang, tentu gaya hidup dan cara berinteraksi orang-orangnya sangat beda dengan di Amerika Serikat, kan?

Nah, dunia kerja juga mirip. Jadi, jangan kaget jika gaya komunikasi, aturan kerja, atau cara menyelesaikan tugas di tiap kantor akan berbeda-beda.

Untuk itu, sangat penting bagi kamu untuk mencari perusahaan yang memiliki budaya kerja yang sesuai dengan gaya kerja kamu.

Menurut Vicki Salemi, seorang ahli karier di New York, ketidakcocokan budaya kerja sering jadi alasan utama orang resign.

Kalau kamu tipe orang yang mandiri, tetapi kantor malah penuh pengawasan ketat, ini bisa membuat kamu tidak betah.

“Sebaliknya, kalau kamu lebih suka bos yang terlibat langsung dan perusahaan memang punya budaya kayak gitu, kemungkinan besar kamu bakal lebih bahagia dan produktif,” jelas Salemi.

Penelitian juga menunjukkan, karyawan yang puas dengan budaya kerja di kantornya, memiliki kepercayaan yang lebih kuat ke sehingga performa kerja ikut naik.

Jadi, cocok-cocokan ini bukan cuma soal nyaman, tetapi juga berpengaruh ke hasil kerja.

Baca Juga: 7 Hal yang Perlu Kamu Ketahui soal Budaya Kerja di Singapura (dan Butuh Banyak Adaptasi)

4 Jenis budaya kerja

Supaya kamu lebih mengerti, ada empat jenis budaya kerja yang umum ditemui di perusahaan:

  1. Budaya klan. Suasananya seperti keluarga. Hubungan antarpegawai dekat, saling dukung, dan biasanya fokus ke kerja sama tim.
  2. Budaya adhocracy. Ini biasanya ada di perusahaan yang kreatif dan penuh inovasi. Karyawan didorong untuk berpikir out of the box dan ambil risiko.
  3. Budaya pasar (kompetisi). Fokusnya ke target, hasil, dan persaingan. Orang-orang di sini biasanya termotivasi sama pencapaian dan angka.
  4. Budaya hierarki. Lebih formal dan terstruktur karena ada aturan jelas, alur kerja tertata, dan peran yang nggak sering berubah.

Budaya kerja bisa berubah sesuai fase hidup

Salemi bilang, selera budaya kerja bisa berubah seiring waktu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: USA Today

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X