Ghost Vacationing, Tren Liburan Diam-Diam yang Mulai Marak di Dunia Kerja

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Rabu, 17 September 2025 | 18:12 WIB
Ghost vacationing sedang marak akhir-akhir ini. Pimpinan harus waspada dan melakukan hal-hal antisipatif. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Ghost vacationing sedang marak akhir-akhir ini. Pimpinan harus waspada dan melakukan hal-hal antisipatif. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Mulai dari kepercayaan atasan yang berkurang, reputasi kerja yang bisa terganggu, hingga potensi masalah administrasi HR.

Namun, di sisi lain tren ini jadi sinyal bahwa kesehatan mental (mental health) dan work-life balance makin penting diperhatikan. Baik oleh karyawan maupun perusahaan.

Tips agar tidak perlu melakukannya

Kalau kamu sering merasa butuh libur, tetapi enggan izin resmi, ada beberapa cara yang bisa dicoba.

  • Gunakan cuti tahunan. Jangan tunggu sampai ada liburan panjang atau acara besar. Sesekali ambil cuti hanya untuk istirahat di rumah, jalan santai, atau me time. Itu sah-sah saja.
  • Bicarakan dengan atasan. Kalau kamu merasa stres atau kelelahan, coba komunikasikan. Banyak atasan sebenarnya mau mendukung kalau karyawan terbuka tentang kondisinya.
  • Cari dukungan dari HR. Kalau beban kerja terasa tidak masuk akal, diskusikan. HR atau manajer mungkin bisa mencari solusi, misalnya mengatur ulang prioritas atau distribusi pekerjaan.

Baca Juga: 6 Etika Out of Office yang Tepat saat Cuti, Supaya Tidak Terus-Terusan Dapat Email dari Kantor

Apa yang bisa dilakukan perusahaan?

Agar fenomena “liburan hantu” tidak makin marak, perusahaan juga punya peran penting. Beberapa langkah yang bisa diterapkan antara lain:

  • Membuat hari khusus kesehatan mental atau kesejahteraan. Jadi karyawan bisa istirahat tanpa harus “alasan sakit”.
  • Mendorong budaya cuti yang sehat. Atasan dan pimpinan perlu memberi contoh dengan menggunakan cuti mereka. Dengan begitu, karyawan tidak merasa bersalah kalau butuh waktu istirahat.
  • Mengelola beban kerja. Ketika tugas terlalu menumpuk, burnout jadi tidak terhindarkan. Perusahaan perlu rutin mengecek apakah karyawan merasa beban kerja masih wajar.

Intinya, fenomena ghost vacationing bukan sekadar karyawan malas bekerja, melainkan tanda bahwa banyak pekerja sedang lelah dan butuh dukungan lebih.

Daripada menunggu sampai banyak orang diam-diam liburan, lebih baik perusahaan dan karyawan sama-sama membangun budaya kerja yang lebih sehat.

Dengan melakukan istirahat yang cukup, komunikasi terbuka, dan beban kerja yang manusiawi, kamu bisa tetap produktif tanpa harus ghost vacationing. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: stylist.co.uk

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X