3 Kebiasaan 'Buruk' Ini Ternyata Menandakan Kecerdasan Emosional yang Tinggi, Overthinking Misalnya

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:30 WIB
Ilustrasi: Overthinking sering dianggap kebiasaan buruk, padahal ini menunjukkan kamu punya kecerdasan emosional yang tinggi. (Freepik/Kamran Aydinov)
Ilustrasi: Overthinking sering dianggap kebiasaan buruk, padahal ini menunjukkan kamu punya kecerdasan emosional yang tinggi. (Freepik/Kamran Aydinov)

3. Menganalisis reaksi emosional diri sendiri

Pernah merasa kesal banget saat rapat padahal masalahnya sepele? Orang dengan kecerdasan emosional tinggi tidak akan mengabaikan perasaan itu. Mereka justru akan membedah emosinya, "Kok aku rasanya kesal banget, ya? Apa karena stres, atau ada masalah terpendam?"

Psikolog menyebut ini sebagai affect labeling atau memberi label pada emosi. Riset di jurnal Emotion Review (2018) menunjukkan, mengenali dan menamai emosi adalah cara paling efektif untuk mengurangi intensitas emosi negatif tersebut.

Baca Juga: Wacana WFH Seminggu Sekali Usai Lebaran 2026, Upaya Hemat Energi di Tengah Tekanan Global

Daripada bertindak impulsif atau marah-marah tanpa alasan, orang yang biasa menganalisis diri sendiri ini lebih mampu merespons situasi dengan tenang.

Ini bukan overthinking, melainkan tanda kematangan psikologis. Mereka tidak menekan perasaan tidak nyaman, tapi mengeksplorasi perasaan itu sampai tuntas sebelum lanjut melangkah.

Jadi, kalau lain kali ada yang bilang kamu kebanyakan mikir, jangan langsung baper. Bisa jadi itu cara otak kamu yang cerdas sedang bekerja untuk memahami dunia dengan lebih dalam. Selama pemikiran itu menghasilkan solusi dan hubungan yang lebih baik, teruskan saja.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X