PejuangKantoran.com - Di saat kita sedang butuh banget pekerjaan, lalu tiba-tiba ada pesan WhatsApp yang menawarkan pekerjaan sampingan yang tinggal klik-klik di ponsel, hati-hati. Bisa jadi itu job scam atau penipuan lowongan kerja.
Saat ini, job scam menjadi ancaman serius bagi banyak pencari kerja. Faktanya, jumlah kerugian akibat penipuan ini meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Data dari Federal Trade Commission (FTC) menunjukkan, kerugian akibat penipuan lowongan kerja melonjak hampir 10 kali lipat dari 2021 hingga 2025. Tahun 2025 saja, lebih dari 30.000 orang melaporkan sudah menjadi target penipuan ini dengan total kerugian mencapai puluhan juta dollar.
Baca Juga: 9 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang Saat Mereka Sebenarnya Lagi Stres Berat
Apa yang diinginkan penipu lowongan kerja?
Pelaku tahu sekali ketika tingkat pengangguran begitu tinggi atau ketika banyak perusahaan melakukan efisiensi karyawan. Mereka memanfaatkan situasi ketika orang putus asa karena tidak juga mendapat pekerjaan.
Richard Graham, ahli kejahatan keuangan dari Moody’s, pernah menerima email penipuan yang sangat meyakinkan. "(Email) Itu sangat cerdas, canggih, dan (membuat kita) mudah terjerumus, apalagi kalau kita benar-benar sedang mencari pekerjaan dan butuh uang," ungkapnya.
Menurut Richard, cara mereka menipu bisa bermacam-macam. Namun, biasanya mereka akan membuat korban mengirimkan uang, entah itu lewat mata uang kripto (cryptocurrency), transfer bank, atau bahkan kartu hadiah (gift card).
Biasanya, mereka beralasan uang itu digunakan untuk biaya peralatan kerja, biaya pelatihan, atau syarat-syarat lainnya agar kamu bisa mulai bekerja di perusahaan mereka.
"Mereka mungkin bilang ada cek yang harus kamu cairkan, lalu mereka akan meminta kita mengirimkan sebagian uangnya kembali kepada mereka," jelas Federal Trade Commission (FTC).
Baca Juga: Alasan Tak Terduga Mengapa Program Keterlibatan Karyawan di Kantor Nggak Banyak Direspons
Sayangnya, cek yang mereka berikan itu palsu. Nantinya cek itu akan ditolak oleh bank, dan kamu bakal rugi karena sudah terlanjur mengirim uang kepada mereka.
Penipu biasanya memulai aksinya dengan cara membuat korbannya merasa istimewa. Mereka bisa menyebutkan detail pekerjaan kamu di masa lalu, atau kemampuan unik yang kamu miliki.
Tujuannya, membangun kepercayaan agar kamu merespons email mereka. Padahal, informasi tersebut seringkali diambil dari profil media sosial kamu yang bersifat publik.
Sayangnya, banyak orang tidak melaporkan kejadian ini karena malu, atau tidak tahu harus melapor ke mana. Padahal, kalau di Amerika FBI melalui Internet Crime Complaint Center (IC3) terus mencatat ribuan laporan setiap harinya.
Artikel Terkait
KAI Mulai Bangun Apartemen Terintegrasi di Stasiun Manggarai, Harga Mulai Rp500 Jutaan
Kenapa Disebut “Tiket Pulang Pergi”, Bukan “Pergi Pulang”? Ini Jawabnya
Putri Thailand Alami Krisis Kesehatan Baru Setelah Tiga Tahun Koma
Mengapa Sitha Marino Pilih Film Horor 'Kamu Harus Mati' sebagai Debut Aktingnya di Layar Lebar?
Nordic Walking: Cara Sederhana yang Bisa Meningkatkan Kesehatan Jantung
Phil Collins Tolak Tampil di Rock & Roll Hall of Fame 2026 karena Kondisi Fisik
Kenapa Banyak Orang Lebih Produktif Saat Kerja di Coffee Shop?