PejuangKantoran.com - Banyak orang yang memutuskan berhenti bekerja dan kemudian kembali ke dunia kerja setelah merasa siap. Alasan waktu jeda karier alias career break ini dari yang standar seperti mengasuh anak, melanjutkan studi, hingga membuka usaha.
Hanya saja, kekosongan di CV atau resume gap yang menunjukkan jeda panjang antara pekerjaan terakhir dengan rencana kembali bekerja sekarang ini sering bikin pejuang kerja keringat dingin saat mau interview.
Pikiran langsung melayang ke mana-mana, "Gimana kalau dikira nggak bisa mengejar ketertinggalan?", atau "Gimana kalau dianggap enggak kompeten?"
Baca Juga: Apa yang Menjadi Pemicu 'Conscious Quitting' di Kalangan Karyawan yang Setia Sekalipun?
Padahal, menurut para rekruter, kekosongan di CV itu sekarang sudah lumrah banget. Apalagi setelah era pandemi COVID-19, di mana banyak orang harus rehat demi mengurus anak, merawat keluarga, atau sekadar menata ulang hidup.
Kalau kamu pernah mengalami jeda karier seperti itu, tenang dulu. Ada beberapa cara mengatasi resume gap dari para rekruter dan mereka yang sudah sukses melewatinya untuk menyiasati celah kosong tersebut.
Ubah pola pikir terhadap resume gap. Jeda karier sekarang sudah dianggap lumrah oleh perekrut akibat situasi pascapandemi (misal, mengurus anak, merawat keluarga, atau restrukturisasi).
Kamu bisa menuliskan penjelasan yang jujur seperti "career break" atau "family responsibility" di CV.
Tonjolkan transferable skills dari kehidupan nyata. Perusahaan lebih fokus pada hasil dan keahlian daripada jalur karier yang mulus. Jelaskan aktivitas selama rehat (seperti menjadi relawan, aktif di komite sekolah, atau membantu bisnis keluarga) untuk menemukan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja.
Tunjukkan kegigihan kamu. Kalau kualifikasi formal kamu rasa kurang, yakinkan perekrut dengan menawarkan solusi konkret, misalnya mengajukan masa percobaan (trial run) singkat untuk membuktikan kemampuan kerja kamu.
Jelaskan alasan PHK secara objektif. Jika jeda kerja terjadi karena perampingan perusahaan, jelaskan situasi tersebut secara jujur, singkat, dan profesional. Kamu nggak perlu bersikap negatif atau menyalahkan mantan atasan atau perusahaan kamu.
Manfaatkan networking profesional kamu. Jangan bergerak sendirian waktu mau kembali ke dunia kerja. Sapa orang-orang baru di platform profesional seperti LinkedIn, atau hubungi kembali komunitas lama yang pernah kamu ikuti. Ordal itu nggak selalu negatif ya, asal kamu tetap mengikuti seleksi berikut dengan fair.
Yang paling penting, berdamai dan jujur dengan masa lalu. Ini akan jadi cara mengatasi resume gap yang paling ampuh.
Apapun penyebab career break kamu, sampaikan tantangan tersebut sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membentuk ketangguhan, perspektif berharga, dan karakter kamu saat ini.
Artikel Terkait
Beasiswa Franklin University Switzerland 2026 di Swiss Tersedia untuk Mahasiswa Jenjang S1
Kapan Video Assistant Referee (VAR) Pertama Kali Digunakan di Piala Dunia?
Mengapa Rekruter Bertanya, "Apakah Kamu Bisa Bekerja sama dengan Orang Lain?" saat Wawancara Kerja
Cara Menjawab Pertanyaan Wawancara 'Apakah Kamu Bisa Bekerja Sama dengan Orang Lain?'
Strategi Baru JAFF Market 2026 agar Film Indonesia Nggak Cuma Jago Kandang
Shake Out Run Sebelum Ikut Lari Marathon Ternyata Penting Bukan Sekadar "Hore-hore"
Lowongan Kerja Financial Planning & Analysis (FP&A) Senior Manager (Mandarin Speaker) di Aice Group