Era Serba Digital, Namun Ternyata Bolpoin Masih Sangat Diperlukan untuk Kerja Terutama di Tugas Penting Berikut!

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Selasa, 14 Juli 2026 | 15:15 WIB
meskipun saat ini sudah serba digital, namaun menggunakan bolpoin atau pemsil saat bekerja masih sangat diperlukan. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
meskipun saat ini sudah serba digital, namaun menggunakan bolpoin atau pemsil saat bekerja masih sangat diperlukan. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
  • Apa inti masalahnya?
  • Apa keputusan yang diambil?
  • Apa risiko yang muncul?
  • Apa tindak lanjut yang paling penting?

Sebaliknya, orang yang mencatat secara ringkas di buku catatannya biasanya memilih kata kunci, keputusan, action item, deadline, dan nama PIC. Proses memilih informasi inilah yang membantu pemahaman terhadap topik.

  1. Brainstorming

Ketika melakukan brainstorming, lebih efektif jika ide pertama dituangkan di sticky notes, whiteboard, dan buku catatan daripada langsung dituliskan di PowerPoint.

Mengapa? Karena saat masih mengeksplorasi ide, otak lebih bebas bekerja tanpa terganggu format dokumen.

  1. Pengambilan keputusan

Seorang manajer sering membuat daftar pro-kontra, matriks keputusan, sketsa alur proses, atau diagram sebab-akibat. Banyak orang masih merasa lebih cepat melakukannya di atas kertas sebelum memindahkannya ke Excel atau aplikasi lain.

  1. One-on-one meeting

Saat berbicara dengan anggota tim, mencatat poin penting menggunakan buku catatan sering memberikan kesan bahwa pemimpin yang:

  • benar-benar mendengarkan,
  • tidak terdistraksi layar laptop,
  • menghargai lawan bicara.

Ini juga dapat meningkatkan kualitas komunikasi interpersonal.

Baca Juga: Meeting Itu Bukan Pekerjaan, Kata CEO Southwest Airlines yang Hanya Mau Rapat 2 Hari dalam Seminggu

Walaupun penelitian handwriting berasal dari bidang pendidikan (yang dilakukan oleh Pam Mueller dan Daniel Oppenheimer), ada penelitian lain di bidang organisasi yang mendukung pentingnya external cognition.

Ini adalah tindakan menggunakan media eksternal (kertas, papan tulis, sticky notes, diagram) untuk membantu berpikir.

Misalnya:

  • Distributed cognition (Edwin Hutchins): proses berpikir tidak hanya terjadi di dalam otak, tetapi juga dibantu oleh alat, artefak, dan lingkungan kerja.
  • Design thinking (dipopulerkan oleh IDEO dan Stanford d.school): penggunaan sticky notes, sketsa, dan whiteboard merupakan praktik standar untuk mengeksplorasi dan menyusun ide.
  • Penelitian tentang visual thinking menunjukkan bahwa menggambar hubungan antargagasan sering membantu memahami persoalan kompleks dan meningkatkan kolaborasi.

Dengan kata lain, banyak praktik kerja modern justru memanfaatkan media fisik sebagai "perpanjangan" proses berpikir. Bagaimana dengan kamu? ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: journals.sagepub.com, Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X