Meeting Itu Bukan Pekerjaan, Kata CEO Southwest Airlines yang Hanya Mau Rapat 2 Hari dalam Seminggu

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Minggu, 29 Maret 2026 | 20:40 WIB
Ilustrasi: Terlalu sering meeting belum tentu membuat kita jadi produktif. (PejuangKantoran.com/Made with Google AI)
Ilustrasi: Terlalu sering meeting belum tentu membuat kita jadi produktif. (PejuangKantoran.com/Made with Google AI)

PejuangKantoran.com - Banyak karyawan yang mengeluh karena terlalu sering meeting. Bukan cuma karyawan, tapi juga bos-bos. Terkadang kita meeting tanpa tahu apa peran kita di situ, karena sekadar diwajibkan hadir.

Salah satu yang ikut angkat suara adalah CEO Southwest Airlines, Bob Jordan. Ia terang-terangan menepis anggapan meeting sebagai “kerja”.

Menurut Jordan, banyak pemimpin (terutama yang baru naik jabatan) sering terjebak dalam jadwal rapat back to back. Dari satu meeting ke meeting lainnya. Padahal, rutinitas itu belum tentu produktif.

Baca Juga: Masih Ada Sisa THR? Lebih Baik buat Investasi Emas, Begini Tips Beli Emas buat Pemula

“Di awal karier, kita biasanya langsung mengira kalau sibuk dan punya banyak jadwal meeting itu kerjanya para bos,” katanya. “Padahal, kenyataannya kita jadi tidak punya waktu untuk benar-benar bekerja.”

Karena itu, ia mengambil langkah yang cukup tegas. Mulai 2026, Jordan memblokir kalendernya setiap Rabu, Kamis, dan Jumat sore. Ia tidak mau ada rapat sama sekali di jam tersebut. Waktu itu ia pakai untuk fokus berpikir, mengambil keputusan, atau sekadar menghubungi orang-orang penting.

Dia tahu sih, cara ini mungkin kedengaran aneh. “Mungkin bagi sebagian orang ini terdengar gila,” ujarnya. Tapi menurutnya, CEO dibayar untuk melakukan hal-hal yang memang hanya bisa dilakukan oleh dirinya. Nah, itu sulit tercapai kalau waktunya habis buat rapat.

Yang mengejutkan, pendekatan Jordan ternyata lumayan membuahkan hasil. Di tengah kondisi industri penerbangan yang tidak stabil, Southwest justru mencatat keuntungan tak terduga. Harga sahamnya juga naik sekitar 23% sepanjang tahun ini.

Tolak one on one

Masalah terlalu sering meeting ini sebenarnya bukan hal baru, tapi makin terasa sejak pandemi. Saat itu, meeting jadi semacam pengganti interaksi langsung. Karena semuanya online, jadwal rapat jadi makin padat. 

Baca Juga: Masakan Italia Jadi Kuliner Terbaik Dunia 2025-2026 versi TasteAtlas. Indonesia Nomor Berapa?

Sekarang, dampaknya baru terasa. Studi tahun 2024 dari Atlassian menunjukkan, hampir 80% pekerja merasa kewalahan dengan jumlah rapat dan panggilan yang keseringan. Bahkan, sekitar 72% rapat dianggap tidak efektif.

Kondisi ini membuat banyak perusahaan mulai mengevaluasi ulang budaya meeting mereka. Ada yang mengurangi jumlah rapat, bahkan menetapkan hari tanpa meeting. Tapi tidak semua setuju kalau rapat harus ditiadakan sepenuhnya.

CEO Employment Hero, Ben Thompson, punya pandangan yang lebih seimbang. “Rapat tidak perlu dihapus total. Yang perlu dihilangkan itu yang tidak efektif dan buang-buang waktu,” jelasnya.

Beberapa pemimpin lain juga punya cara unik. CEO Nvidia, Jensen Huang, misalnya, tidak mengadakan one on one dengan puluhan bawahannya. Menurutnya, itu justru bisa memperlambat kerja tim.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Fortune

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X