Bagi Tim HR, PHK Massal Adalah Proses yang Memakan Waktu dan Sarat Emosi

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 2 Maret 2023 | 17:26 WIB
Ilustrasi: Bagi tim HR, PHK massal adalah proses yang sarat emosi dan memakan waktu. (Freepik/Master1305)
Ilustrasi: Bagi tim HR, PHK massal adalah proses yang sarat emosi dan memakan waktu. (Freepik/Master1305)

PejuangKantoran.com - Sektor teknologi saat ini sedang menghadapi PHK massal, karena perusahaan seperti Meta, Twitter, dan Netflix, memberhentikan puluhan ribu pekerja.

Dengan semakin banyaknya perusahaan yang melakukan PHK massal, divisi HR (SDM) berada di bawah tekanan yang semakin meningkat karena mereka lah yang memproses pengurangan karyawan tersebut.

Pengurangan karyawan sebenarnya sudah menjadi bagian dari tugas HR sehari-hari. Empat dari lima kepala SDM sedang dalam proses memangkas daftar karyawan, yang mencakup PHK, penghentian perekrutan karyawan baru, pensiun sukarela, tidak menggantikan orang yang keluar, atau pemotongan berbasis kinerja, menurut Pulse Survey dari PwC berdasarkan tanggapan dari 657 eksekutif di AS sejak pertengahan Oktober.

Baca Juga: Leader Mesti Waspada: PHK Bisa Mendorong Karyawan yang Tersisa untuk Resign!

Dalam situasi tersebut, tim HR merasakan bagaimana menentukan cara terbaik untuk menangani apa yang dapat disetujui semua orang adalah tanggung jawab yang sangat berat.

Melissa Terry, kepala SDM di VEM Group, perusahaan manufaktur plastik yang berbasis di Clovis, California, menceritakan bahwa dia menghadapi tekanan yang meningkat saat berkomunikasi dengan anggota tim secara langsung untuk menyampaikan situasi di perusahaan secara eksplisit.

“Saya mengisi kesenjangan informasi dengan berbagi data pasar, dan keadaan laba perusahaan saat ini, serta memberitahu mereka tentang potensi tindakan di masa depan,” katanya.

Perampingan karyawan terjadi baik secara langsung maupun jarak jauh, karena banyak karyawan yang masih WFH. Pada saat itu, kepala SDM sendiri yang harus menyampaikan kabar buruk kepada karyawan yang di-PHK.

Kepala SDM juga harus memikirkan karyawan yang bertahan, karena mereka pasti mulai mempertanyakan nasib mereka di perusahaan.

Baca Juga: Perusahaan Teknologi Rata-rata Mem-PHK 6% Karyawan, Pakar Bilang Karena CEO Saling Meniru!

“Mereka membutuhkan komunikasi yang jelas tentang bagaimana pekerjaan dan tujuan mereka dapat berubah,” kata Terry. “Mereka pasti ingin tahu seperti apa masa depan organisasi dari sudut pandang manajemen.”

Perampingan karyawan bakal sangat menantang ketika karyawan yang diberhentikan kebetulan adalah karyawan yang luar biasa.

“Sulit memberitahu seseorang bahwa mereka tidak punya pekerjaan lagi, padahal kinerja mereka luar biasa,” kata Kimberley Tyler-Smith, kepala strategi dan pertumbuhan di ResumeWorded, New York.

“PHK adalah proses yang sarat emosi dan sangat memakan waktu,” tambahnya.

Menjalankan perampingan karyawan sama sekali bukan pekerjaan gampang bagi tim HR. Selain menyiapkan prosesnya, mereka juga perlu mengelola perasaan dan harapannya sendiri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Worklife

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X