Bagaimana Cara Menghadapi Bullying di Kantor? Perusahaan Juga Tak Boleh Tinggal Diam

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Rabu, 12 Juli 2023 | 08:59 WIB
Ilustrasi: Bullying di kantor telah menjadi sangat normal sehingga memengaruhi lebih dari sepertiga angkatan kerja. (Freepik)
Ilustrasi: Bullying di kantor telah menjadi sangat normal sehingga memengaruhi lebih dari sepertiga angkatan kerja. (Freepik)

Setelah itu, ikuti semua proses perusahaan untuk penyelesaian keluhan. Jika tidak ada yang dilakukan oleh perusahaan, carilah nasihat hukum dari luar.

Berbicara dengan terapis atau konselor yang dapat membantumu mengatasi tekanan emosional juga bisa dilakukan.

Kamu jadi mendapatkan saran profesional mengenai cara menghadapi intimidasi di tempat kerja dan menyusun strategi untuk mengatasinya.

Jika memang dirasa sudah tidak kuat, kamu bisa memertimbangkan untuk pindah ke departemen atau tim lain.

Ketika sampai pada titik yang membuat kesehatan mentalmu sangat terpengaruh, dan kamu bahkan tidak bisa tenang di rumah, inilah saatnya untuk mulai mencari pekerjaan baru.

Baca Juga: Boleh Rajin Kerja, Tapi Jangan Jadi Workaholic! Ini 5 Cara Mengatasinya

Efek jangka panjang bullying di kantor

Perundungan di tempat kerja dapat memiliki konsekuensi yang parah dan bertahan lama pada kesehatan, produktivitas, dan pertumbuhan korbannya.

Korban bullying di tempat kerja dapat menderita masalah kesehatan fisik dan mental jangka panjang, termasuk kecemasan, stres, kurang tidur, depresi, hipertensi, kehilangan harga diri, penurunan produktivitas, dan ketidakhadiran.

Ini bukan hanya masalah karyawan, tetapi juga perusahaan atau tempat kerja mana pun.
Pengusaha harus bisa mengenali dan mengatasi intimidasi di tempat kerja.

Jika tidak, maka hal itu dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan fisik karyawan dan, tentu saja, perusahaan. (Elga Windasari)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X