Ingatlah bahwa “agresif” tidak berarti dilakukan dengan ngawur. Meskipun tawaran pertama yang agresif bisa menguntungkan, tetapi menolak tawaran dengan alasan yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan bisa membuat pihak lain bertanya-tanya apakah kamu serius, kompeten, atau kredibel.
Bersikaplah spesifik
Semakin spesifik tawaran pertama, semakin efektif tawaran tersebut dalam memperkuat oposisi dirimu.
Jika meminta rekruter untuk menyebutkan angka terasa terlalu berlebihan bagi kamu, kamu bisa mencoba mengalihkan pertanyaan ke arah lain: “Saya sedang mempertimbangkan untuk meminta X, apakah hal tersebut masuk akal bagi Anda?”
Faktor keberhasilan negosiasi lainnya
Kunci keberhasilan penawaran pertama adalah informasi. Situasi ideal untuk melakukan ini adalah ketika kamu mengetahui lebih banyak daripada pihak lain.
Jika pihak lain memiliki akses terhadap lebih banyak informasi daripadamu, akan sangat sulit untuk melepaskan jangkarnya.
Misalnya, saat melakukan wawancara kerja sang pewawancara mengetahui berapa gaji yang dianggarkan untuk posisimu dan kamu tidak, maka permintaan gaji pertamamu yang jauh di luar anggaran itu tidak akan memberikan dampak yang diharapkan.
Baca Juga: Mau Negosiasi Gaji tapi Belum Punya Pengalaman Kerja? Ini yang Harus Dipertimbangkan!
Di sisi lain, jika kalian berdua mengetahui jumlah informasi yang sama, penawaran darimu akan dapat diprediksi dan diharapkan sehingga lebih mudah untuk diredakan.
Jika kalian berdua tidak tahu apa-apa, tawaran pertama hanya berupa tebakan sehingga tidak mungkin untuk mengetahui apakah kamu benar-benar membantu diri sendiri dalam pengambilan penawaran tersebut.
Meskipun demikian, memberikan penawaran pertama telah terbukti memberikan efek psikologis yang menguntungkan dalam negosiasi.
Jadi gunakanlah kekuatan ini, tetapi jangan lupa untuk melakukan riset terlebih dahulu. (Elga Windasari)