kubikel

Cara Mengisi Jabatan Manajer yang Tidak Lagi Diminati Karyawan Muda

Selasa, 24 Oktober 2023 | 20:25 WIB
Ilustrasi: Untuk mengisi jabatan manajer yang tak lagi diminati, perusahaan harus menemukan cara baru untuk menghargai manajer. (Freepik/Yanalia)

PejuangKantoran.com - Menurunnya minat karyawan muda untuk menjadi manajer saat ini bisa dibilang mengkhawatirkan. Mereka tidak ingin menerima beban tanggung jawab dan tekanan yang meningkat dengan adanya jabatan manajer tersebut.

Hasil survey Visier terhadap 1.000 karyawan tetap di seluruh Amerika itu menghasilkan kesenjangan manajemen.

Kesenjangan ini terjadi pada saat yang sangat buruk, yaitu ketika perusahaan-perusahaan berjuang melawan tantangan yang disebabkan oleh penggunaan teknologi AI, peningkatan otomatisasi, dan pasar tenaga kerja yang ketat.

Baca Juga: Sekarang, Banyak Karyawan Muda Tidak Tertarik Jadi Manajer, Ternyata Ini Alasannya!

Padahal, dalam tantangan seperti ini kepemimpinan yang jelas sangat dibutuhkan. Ironisnya, calon pemimpin justru semakin sulit ditemukan.

Jadi, bagaimana perusahaan dapat mengisi jabatan manajer yang tidak lagi diminati karyawan muda, dan menjadikan posisi manajemen kembali aspiratif?

Salah satu langkah pentingnya adalah mendefinisikan kembali arti manajer. Misalnya, industri teknologi, yang telah mempopulerkan konsep "pelatih-pemain".

Dalam konsep ini, karyawan bisa terus berkontribusi sebagai individu, sekaligus memimpin tim kecil yang terdiri atas rekan-rekan terpercaya.

Hal ini membuat “manajer” tetap memiliki keterlibatan yang berkelanjutan dengan bidang yang dikuasainya, dan memiliki pertumbuhan keterampilan manajemen baru.

Pada saat yang sama, perusahaan harus menemukan cara baru untuk menghargai jabatan manajer. Satu hal yang paling jelas diinginkan oleh seorang manajer adalah bonus.

Di pasar yang kompetitif, banyak perusahaan memberikan bonus untuk menarik talenta ke dalam proyeknya.

Menurut survei pada tahun 2021, 43% manajer perekrutan menawarkan lebih banyak waktu libur berbayar, dan 40% menawarkan jabatan yang lebih baik untuk memperebutkan talenta terbaik.

Baca Juga: Separuh Karyawan Lebih Suka Jam Kerja Normal dari Jam 09.00-17.00 Ketimbang Jam Kerja Fleksibel

Namun, ini bukan soal fasilitas. Para manajer mengatakan bahwa mereka ingin dihargai dengan peningkatan otonomi dan tanggung jawab yang lebih besar.

Lalu, langkah yang sama pentingnya adalah membantu para manajer menangani peningkatan tanggung jawab dengan teknologi yang lebih baik. Hal ini memungkinkan mereka memperluas rentang kendali sekaligus mengurangi kerja keras.

Halaman:

Tags

Terkini