“Faktor ekologi seperti tanah yang tidak subur itulah yang memaksa mereka untuk merantau mencari mata pencaharian di daerah lain,” ujar dosen etnografi Madura itu.
Selanjutnya, kuantitas atau jumlah masyarakat suku Madura yang cukup banyak tidak sesuai dengan luas pulau Madura itu sendiri. Ada sekitar 7 juta jiwa masyarakat Madura per 2010, pulau Madura tak menampung populasi sebanyak itu, sehingga masyarakatnya harus pergi dari pulaunya.
Baca Juga: Contoh Template Surat Rekomendasi Kerja yang Bisa Dipakai untuk Rekrutmen Bersama BUMN 2024
Bekerja di Sektor Informal
Mayoritas masyarakat suku Madura yang merantau ke daerah lain cenderung memilih sektor ekonomi informal dalam meraih kesejahteraan. Hal itu terjadi karena permasalahan tingkat pendidikan. Masyarakat Madura, imbuh Dr Adib, tidak memiliki tingkat pendidikan yang begitu tinggi.
“Pendidikan masyarakat Madura itu terbatas, maka pekerjaan apa saja mereka lakukan. Terutama pekerjaan fisik seperti buruh pabrik. Yang juga ada demand-nya,” imbuhnya.
“Sejarahnya pada zaman Belanda, mereka direkrut untuk kerja di pabrik gula,” tambahnya.
Dr Adib juga turut berpesan kepada masyarakat suku Madura untuk meningkatkan keterampilannya agar tidak hanya bekerja sebagai pekerja fisik. Mengingat, ada lumayan banyak fasilitas yang telah disediakan negara.
“Maka, tingkatkan pendidikan karena sudah difasilitasi negara. Menyiapkan pendidikan di masa depan. Utamakan pendidikan, membongkar kultur informal. Merantaulah dengan skill, tidak hanya sebagai tenaga kasar,” katanya.