PejuangKantoran.com - Mencari pekerjaan baru saat ini memang sangat sulit. Kamu tidak hanya bersaing dengan orang yang ingin mencari pekerjaan yang lebih baik, tetapi juga yang benar-benar butuh pekerjaan karena terkena layoff.
Sudah begitu, sebagian besar pengguna LinkedIn dan TikTok kerap membagikan ulang tips dan trik mencari kerja yang sebagian di antaranya ternyata hanya mitos, dan tidak berguna bagi pencarian kerja kamu.
Baca Juga: 7 Kebiasaan untuk Menyelamatkan Produktivitas Anda Saat Libur Panjang Lebaran
Berikut adalah empat mitos saat mencari pekerjaan yang paling banyak beredar, yang sebaiknya kamu abaikan saja.
1. Pasar kerja tersembunyi
Sebagian besar saran yang beredar di LinkedIn dan TikTok saat ini mengatakan bahwa 80% lowongan kerja yang tidak diiklankan, sehingga kita harus punya koneksi untuk mendapatkan akses ke "pekerjaan tersembunyi" itu.
Hal itu jelas tidak benar saat ini. Menurut James Hudson, HR Executive yang punya pengalaman 20 tahun di bidang Talent Acquisition, pekerjaan yang tidak diiklankan hanya kurang dari 1% dari total aktivitas perekrutan.
Baca Juga: Dikacangin Memang Bikin Gondok, Begini Cara Membuat Orang Mendengarkan Saat Kamu Bicara
“Dan biasanya hanya terjadi untuk peran C-suite, atau saat kami secara aktif mencoba menggantikan seseorang yang sedang menjabat,” katanya.
2. Ada bot di dalam ATS
Mitos saat mencari pekerjaan berikutnya adalah penggunaan kecerdasan buatan dalam sistem perekrutan.
Penerapan AI belum dilakukan dalam skala besar di dalam sistem pelacakan pelamar. Adopsi tool AI secara luas digunakan untuk "memilih" kandidat, bukan untuk menolak mereka.
Baca Juga: Dikerjain Habis-habisan di Film Horor Siksa Kubur, Christine Hakim Sebut Joko Anwar Sinting
Satu-satunya penolakan otomatis yang digunakan saat ini adalah melalui pertanyaan biner yang dimiliki oleh beberapa sistem ATS (Applicant Tracking System), untuk kualifikasi peran dasar.
Contohnya, "Apakah Anda berusia minimal 18 tahun?" atau "Apakah Anda memiliki hak untuk bekerja di negara tempat Anda melamar?" Di luar itu, setiap penolakan terhadap lamaran memerlukan intervensi dari rekruter manusia.