PejuangKantoran.com - Ada satu kebiasaan buruk yang biasa dilakukan karyawan: berusaha keras untuk menyelesaikan terlalu banyak pekerjaan dalam satu waktu.
Paling tidak, itulah pendapat Sarah Paiji Yoo, salah satu pendiri Blueland, pembuat produk pembersih dan perawatan pribadi ramah lingkungan.
Sebelumnya, ia adalah CEO dan salah satu pendiri Snapette, aplikasi berbagi foto yang berfokus pada mode. Didirikan pada 2011, perusahaan itu diakuisisi pada 2013 oleh PriceGrabber.
Paiji Yoo mengaku dirinya sudah terlalu banyak bekerja dalam masa kerjanya yang baru dua tahun.
"Saya bekerja 24 jam selama tujuh hari karena adaaa... saja pekerjaan yang harus dilakukan. Sekarang saya memaksakan prioritas, pelajaran yang harus saya pelajari dari waktu ke waktu," ujarnya.
Merusak kualitas pekerjaan
Saat ini, banyak karyawan yang secara terbuka mengungkapkan bahwa mereka bersedia bekerja lembur, datang lebih awal ke kantor, dan pulang lebih lambat.
Hal itu karena bertugas dengan jam kerja yang lebih panjang dianggap sebagai dedikasi yang lebih besar terhadap pekerjaan.
Untuk mencapai hal tersebut, kebanyakan karyawan berusaha menyelesaikan semua pekerjaan dengan begadang semalaman, bekerja pada hari libur, atau secara multitasking.
Mereka yang bekerja di perusahaan startup dengan uang, karyawan, waktu, dan sumber daya yang terbatas, seperti yang dialami Paiji Yoo, cenderung melakukan hal tersebut.
Tentunya, cara tersebut bukan yang terbaik dalam menjalani pekerjaan.
Bekerja dalam jam kerja yang panjang bisa memperburuk kualitas pekerjaan dan menimbulkan kelelahan kerja.
Menurut Seri Penelitian Kesehatan Mental Karyawan dalam 2024 dari Society of Human Resource Management, 51% karyawan di Amerika Serikat merasa "baterainya habis" ketika hari kerja mereka selesai.