Gen Z dipaksa menghadapi kehancuran iklim di depan mata.
Dunia kerja Gen Z tidak sama dengan generasi sebelumnya
Artikel Fortune juga menyebutkan tentang sekolah-sekolah yang saat ini berusaha mempersiapkan anak-anak untuk menghadapi kesibukan perusahaan.
Baca Juga: Pembaruan Copilot Bikin Chatbot Microsoft AI Itu Lebih Menjadi Teman Digital dan Bisa Ngobrol
Bahkan, di salah satu SMA di London, mereka tengah menguji coba sekolah 12 jam sehari untuk mempersiapkan murid-muridnya menghadapi kehidupan orang dewasa.
Ini merupakan sebuah ironi karena faktanya jam kerja yang beradab dalam masyarakat tidak lebih dari 8 jam. Mengapa Gen Z dipaksa untuk sekolah hingga 12 jam?
Lalu, para pemberi kerja juga berharap Gen Z memiliki sikap positif dan lebih banyak inisiatif.
Caranya dengan membangun reputasi sebagai orang yang bisa diandalkan, memenuhi tenggat waktu, dan menjadi sukarelawan untuk proyek-proyek, yang bahkan di luar tanggung jawabnya.
Dulu, jam kerja yang panjang dan kerja ekstra adalah bagian dari etos budaya perusahaan. Para pekerja “dipaksa” mengorbankan hidup dan kesejahteraan mereka untuk atasan.
Saat ini, prinsip kapitalis seperti itu sudah tidak berlaku. Apalagi bagi kaum Gen Z yang masih digaji rendah.
Baca Juga: Saat Wawancara Kerja, Cari Tahu Apakah Kamu Punya Atasan yang Baik (Gaji Tinggi Urutan Kedua)
Jadi, jika mereka dianggap tidak memiliki sikap positif, ada alasan yang kuat mereka bersikap seperti itu.
Gen Z dibiarkan bertahan sendiri
Dengan segala yang terjadi di dunia ini, generasi yang lebih tua seharusnya tidak terkejut saat Gen Z memprioritaskan dirinya sendiri karena tidak ada orang lain yang melakukannya.
Artikel Stanford Report pada Februari 2024 tentang pekerja Gen Z menyimpulkan bahwa mereka tidak takut untuk menantang, karena segala sesuatunya dilakukan seperti apa adanya.