Mereka juga disebut lebih suka kolaborasi dan konsensus daripada hierarki, serta sangat peduli dengan keseimbangan kehidupan kerja atau work life balance.
Karyawan Gen Z tumbuh dengan melihat orang tua mereka membawa pulang pekerjaan, bekerja di luar jam kerja, bekerja lembur tanpa kompensasi, dan bersedia menjawab panggilan telepon dan email setiap saat.
Di saat yang bersamaan, mereka menyaksikan generasi yang lebih tua mengalami PHK massal, upaya serikat pekerja yang gagal, dan gaji yang stagnan.
Jadi, jika Gen Z menolak gagasan bahwa kehidupan kerja harus menguasai kehidupan seseorang, seharusnya ini yang harus dipelajari oleh generasi yang lebih tua. Bukan sebaliknya. (Elga Windasari)