PejuangKantoran.com - Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, istilah "jam koma" menjadi populer di kalangan Gen Z.
Istilah ini menggambarkan momen ketika seseorang merasa lelah dan berusaha untuk istirahat, tetapi otaknya tetap aktif memikirkan berbagai hal. Akibatnya, waktu istirahat yang seharusnya berkualitas justru menjadi tidak maksimal.
Jam koma mencerminkan ketidakselarasan antara kondisi fisik yang membutuhkan istirahat dan pikiran yang terus bergerak. Banyak anak muda merasa terjebak dalam siklus ini, di mana mereka sulit untuk benar-benar bersantai karena pikiran tentang pekerjaan, studi, atau masalah pribadi terus menghantui.
Jam koma adalah cerminan tantangan yang dihadapi banyak anak muda saat ini. Mengatasi fenomena ini menjadi penting agar mereka dapat menikmati waktu istirahat yang lebih berkualitas dan menjaga kesehatan mental mereka.
Baca Juga: Barak Tentara Rasa Glamping Jadi Lokasi Pembekalan Para Menteri di Magelang
Istilah ini semakin populer setelah banyak pengguna internet membagikan momen di mana seseorang tampak kehilangan fokus atau terlihat linglung di tempat umum. Salah satu pengguna Twitter @thyn*** menuliskan, “Jam koma adalah waktu ketika kalian merasa sangat lelah, dan otak sulit untuk berkonsentrasi, sehingga kalian tanpa sadar melakukan hal-hal yang tidak disadari.”
Secara teknis, "jam koma" bukanlah istilah medis, melainkan lebih sering digunakan untuk menggambarkan kondisi kelelahan ekstrem yang menyebabkan seseorang kehilangan fokus. Fenomena ini sering dikaitkan dengan gaya hidup yang tidak seimbang dan dapat berujung pada apa yang disebut "kelelahan kognitif." Menurut situs Medical News Today, kelelahan kognitif terjadi ketika kemampuan seseorang untuk berpikir secara efektif dan tetap fokus mulai menurun.
Baca Juga: Trail Running Tak Hanya Membuat Bugar Namun Juga Olah Raga Rekreatif. Ikuti Tips Sebagai Pemula
Berikut adalah penyebab kelelahan kognitif menurut Psikolog David Tzall, Psy.D:
- Kelelahan dan kurang tidur
- Stres
- Beban kerja mental yang berat
- Penurunan kognitif akibat usia
- Kondisi medis tertentu (misalnya Alzheimer, demensia, atau cedera otak)