Perusahaan ini menggunakan alat pencocokan bakat. Alat ini adalah platform jaringan online untuk membantu karyawan merencanakan pengembangan mereka dengan sesuai dengan rekomendasi yang dipilih karyawan berdasarkan preferensi mereka.
Jadi, peluang karir, proyek, bimbingan, dan pekerjaan yang dilakukan dalam perusahaan akan selaras dengan keahlian mereka.
Mereka juga menggunakan program "match learn", yaitu platform pengalaman belajar yang menawarkan rekomendasi pembelajaran yang dipersonalisasi. Ini digunakan untuk membantu karyawan lebih cepat beradaptasi di area tertentu sehingga bisa mengikuti perubahan bisnis.
Alat penilaian mandirinya juga memungkinkan karyawan untuk menemukan kekuatan diri dan keahlian yang perlu ditingkatkan. Ini bisa digunakan untuk membantu membentuk rencana kemajuan karier mereka yang sesuai.
Apa cara ini ada kerugiannya?
Budaya bekerja tanpa diawasi ini memang memiliki beberapa risiko. Salah satunya adalah karyawan mungkin lebih rentan resign dan bisa diam-diam berhenti dari pekerjaan karena pengawasan yang lebih jarang.
Tak sebatas pada staf, risiko ini juga bisa terjadi pada manajer. Ketika seorang manajer tidak lagi harus mengawasi, maka ia bisa sangat frustrasi.
Rasa frustasi ini terjadi karena manjaer tersebut merasa tidak punya wewenang lagi. Manajer tersebut bisa benar-benar merasa kurang termotivasi dibanding ketika harus mengawasi pekerjaan orang lain.
Oleh karena itu, seorang manajer juga diharapkan terus menembangkan kehalian agar bisa lebih “berguna” dibandingkan AI yang bisa menyelesaikan lebih banyak tugasnya,
Terakhir, jika lebih banyak pekerjaan ditangani oleh AI, risiko lain adalah hilangnya hubungan langsung antarmanusia yang sangat penting di tempat kerja.
Ini karena hubungan seperti itulah yang membuat tempat kerja tetap manusiawi meski sudah menyertakan teknologi dalam operasinya. (Elga Windasari)