kubikel

Hindari Mengecek Email Kerja saat Sedang Cuti, Atasan Bisa Tetapkan Batasan dengan Cara Ini

Senin, 23 Desember 2024 | 10:15 WIB
Ilustrasi: Takut ketinggalan informasi membuat kita selalu dituntut mengecek email saat sedang cuti. (Freepik/Seniv Petro)

PejuangKantoran.com - Permohonan cuti sudah di-approved, tetapi apakah form permohonan cuti meminta kamu meninggalkan nomor telepon yang mudah dihubungi selama cuti?

Atau atasan meminta kamu untuk standby kalau-kalau mendadak ada meeting yang harus dihadiri, atau feedback dari klien yang harus segera direvisi?

Hm… kehidupan yang serba terkoneksi memang membuat kita serba salah. Di satu sisi, hidup kita jadi dimudahkan. Di sisi lain, kita jadi sulit hidup tenang karena saat cuti pun harus selalu siap dihubungi untuk menyelesaikan pekerjaan yang tak ada habisnya.

Baca Juga: Pemerintah Sebut Bakal Bantu Pekerja Ter-PHK Lewat Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP)

Studi terbaru dari University of Nottingham, yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Organizational Psychology, mengungkap sisi gelap dari keterhubungan digital yang berlebihan di lingkungan kerja.

Para peneliti memperkenalkan konsep Digital Workplace Technology Intensity (DWTI), yang menggambarkan beban mental dan emosional yang dialami karyawan akibat tuntutan untuk selalu terhubung dalam lingkungan kerja yang serba digital.

Karyawan merasa perlu memantau smartphone mereka terus-menerus agar tidak ketinggalan informasi penting terkait pekerjaan. Jika tidak segera merespons pesan atau email, mereka khawatir akan dicap negatif.

Misalnya, karyawan yang bekerja dari rumah mungkin khawatir dianggap tidak produktif jika tidak segera merespons email atau pesan Whatsapp yang masuk.

Ada beberapa penyebab karyawan dituntut untuk selalu mengecek email saat sedang cuti:

FoMO di tempat kerja. Kebiasaan memeriksa email atau Whatsapp terus-menerus dipicu perasaan FoMO (Fear of Missing Out) di kalangan karyawan. Mereka cemas akan ketinggalan informasi atau peluang penting jika tidak selalu memantau ponselnya.

Baca Juga: British School Jakarta Buka Lowongan Kerja Head of Library, Paket Remunerasinya Menggoda!

Perasaan ini mendorong kebiasaan memeriksa email atau pesan-pesan di berbagai platform lain di luar jam kerja, termasuk saat liburan. FoMO dalam konteks ini menyebabkan stres dan kelelahan mental yang signifikan.

• Serbuan informasi. Selain FoMO, karyawan juga kewalahan akibat serbuan informasi yang tak henti-hentinya melalui berbagai alat dan aplikasi digital.

Bom informasi ini bisa menyebabkan perasaan kewalahan dan stres, yang pada akhirnya berdampak negatif pada kesehatan mental dan kesejahteraan karyawan.

Akibat khawatir ketinggalan informasi, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi semakin kabur. Karyawan jadi sulit untuk benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan, bahkan pada saat cuti.

Halaman:

Tags

Terkini