Padahal, pemimpin seharusnya memilih orang yang benar-benar memiliki keterampilan untuk memimpin.
Jika mengutamakan karyawan yang paling terlihat sukses, perusahaan berisiko mengalami kekurangan keragaman dan penekanan berlebihan pada keterampilan teknis. Ini pada akhirnya dapat mengikis kualitas kepemimpinan karyawan.
Baca Juga: Honda dan Nissan bersama Mitsubishi Berencana Merger, Siap Hadang Toyota dan Volkswagen
2. Merendahkan peran manajemen
Dengan adanya tren "unbossing” yang dipelopori oleh CEO terkemuka seperti Mark Zuckerberg, banyak eksekutif yang memangkas peran manajer menengah dan menganjurkan pemerataan organisasi.
Meski ada sisi positifnya, tetapi dampak negatif yang bisa terjadi adalah para manajer menengah ini merasa semakin kurang dihargai sehingga memiliki risiko lebih tinggi untuk melakukan balas dendam dengan berhenti bekerja tiba-tiba.
3. Melanggengkan budaya burnout
Masih sedikit pemimpin yang mendorong karyawan untuk mencapai work-life balance. Ketidakmampuan pemimpin untuk menetapkan batasan dan mengelola burnout akan sangat berimbas pada kesejahteraan karyawan.
4. Tidak memberi perhatian pada karyawan yang berpotensi
Ketika karyawan yang berpotensi tinggi tidak menerima pengembangan keterampilan, kemungkinan mereka untuk berhenti kerja tiga kali lebih besar.
Saat ini, orang dengan keterampilan leadership yang tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan prospek karirnya, akan segera meninggalkan perusahaan untuk mencari peluang yang lebih baik.
Jadi, untuk mengurangi risiko revenge quitting, para pemimpin harus fokus untuk mengembangkan budaya kerja yang menghargai kontribusi karyawan dan memenuhi kebutuhan mereka yang terus berkembang.
Jika tidak dilakukan, siap-siap menghadapi banyaknya karyawan yang berhenti bekerja tiba-tiba untuk pindah ke tempat yang lebih baik. (Elga Windasari)