kubikel

Berikut 3 Cara Selamatkan Karir Kamu Tanpa Perlu Melakukan Quite Quitting

Kamis, 10 April 2025 | 15:15 WIB
Quite quitting bisa menjadi sinyal adanya rasa frustasi yang dialami karyawan. (thirdman94)

Pejuangkantoran.com - Kamu mungkin sudah tidak asing dengan istilah quiet quitting. Ini merupakan sebutan untuk karyawan yang tidak benar-benar berhenti bekerja, tetapi memilih membatasi diri hanya dengan mengerjakan tugas utama.

Langkah ini sering dianggap sebagai cara menjaga batas pribadi dan mencegah burnout. Meski begitu, sikap ini juga bisa menjadi sinyal adanya frustasi yang belum terungkap dengan baik.

Fenomena ini disebut menjadi respons dari banyaknya tekanan dan kurangnya apresiasi yang dirasakan karyawan.

Walaupun bisa meredakan tekanan sementara, para ahli menilai bahwa quiet quitting bukan langkah yang efektif untuk jangka panjang.

Ada beberapa hal yang lebih disarankan untuk dilakukan lebih dulu sebelum memutuskan untuk berhenti diam-diam, yaitu:

  1. Fokus pada efisiensi kerja

Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance memang perlu, tetapi semangat kerja tetap harus dipertahankan.

Waktu yang dihabiskan untuk bekerja sebaiknya tetap dimanfaatkan sebaik mungkin dengan cara kerja yang efisien.

Dengan begitu, kamu tetap bisa berkembang dan menambah skill tanpa harus mengorbankan waktu dan energi secara berlebihan.

Jadi, sikap positif tetap penting dijaga, meski sedang memilih untuk fokus hanya pada tanggung jawab utama.

Baca Juga: Manajer Harus Waspada dengan Fenomena Soft Quitting. Amati Gejala-Gejalanya!

  1. Ambil kendali atas pertumbuhan diri

Tidak sedikit orang yang merasa jengkel atau kecewa dengan situasi kerja, lalu menjadikan quiet quitting sebagai bentuk pelampiasan.

Padahal, rasa ketidakpuasan itu sering kali muncul karena kelelahan atau merasa kurang dihargai. Sebelum menyalahkan lingkungan kerja, ada baiknya memahami dulu akar dari perasaan tersebut.

Mengenal alasan di balik rasa tidak bahagia bisa membuka jalan untuk menemukan solusi yang lebih tepat. Ini karena pertumbuhan pribadi tetap jadi tanggung jawab masing-masing.

  1. Bicarakan dengan atasan, bukan di media sosial

Daripada memendam atau mengunggahnya di media sosial, lebih baik menyampaikan langsung pada atasan.

Halaman:

Tags

Terkini