Komunikasi terbuka ini mungkin terasa canggung, tetapi bisa jadi awal dari perubahan yang dibutuhkan.
Mengutarakan kebutuhan dengan jelas bisa menjadi langkah untuk menciptakan hubungan kerja yang lebih membangun dan saling memahami.
Kamu bisa menuliskan dua hal yang bisa memperbaiki kondisi kerja, lalu mendiskusikannya secara langsung untuk membawa perubahan yang signifikan.
Baca Juga: 4 Perilaku Atasan yang Bisa Mendorong Karyawan Sering Melakukan 'Revenge Quitting'
Peran pemimpin juga penting
Tidak semua beban ada di pundak karyawan. Pihak manajemen juga perlu ikut serta.
Pemimpin yang baik seharusnya mau mendengarkan dan terbuka terhadap masukan. Pendekatan yang lebih manusiawi perlu diterapkan, terutama setelah masa pandemi yang membuat banyak hal berubah.
Perhatian kecil seperti apresiasi dan mendengarkan bisa sangat berpengaruh pada motivasi kerja seseorang.
Namun bila belum ada respons dari atasan, perlu waktu dan kesabaran agar komunikasi tetap berjalan dua arah.
Mengungkapkan pendapat bukanlah titik akhir, tapi justru langkah awal menuju perubahan yang lebih baik. (Elga Windasari)***
Artikel Terkait
Quite Quitting Cocok untuk Kaum Rebahan yang Tidak Berniat Menjadi Pemimpin di Perusahaan
Hampir 1 dari 5 Karyawan Melakukan Loud Quitting di Tempat Kerja, Apa sih Maksudnya?
Buat Para Bos, Ini 5 Cara Agar Karyawan Tidak Memilih Quiet Quitting saat Bekerja
Sering Disebut Pekerja Keras, Ternyata Pekerja Jepang Peringkat Pertama Paling Banyak Quiet Quitting!
Siap-siap, Fenomena Revenge Quitting alias Berhenti Bekerja Tiba-tiba akan Ramai Tahun 2025
4 Penyebab Karyawan Melakukan 'Revenge Quitting' Selain Karena Konflik yang Terus-menerus