Buat Para Bos, Ini 5 Cara Agar Karyawan Tidak Memilih Quiet Quitting saat Bekerja

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 11 Agustus 2023 | 11:55 WIB
Ilustrasi: Kebanyakan bos mengira, quiet quitting disebabkan karyawan punya sifat pemalas. (Freepik)
Ilustrasi: Kebanyakan bos mengira, quiet quitting disebabkan karyawan punya sifat pemalas. (Freepik)

PejuangKantoran.comQuiet quitting telah berevolusi dari hanya sekadar tren di media sosial menjadi fenomena global.

Hal ini membuat para pemimpin perusahaan menjadi cemas dan bertanya-tanya apakah karyawan mereka juga akan melakukannya.

Yang perlu diketahui para bos, karyawan yang quiet quitting—atau karyawan tidak mau melakukan pekerjaan yang bukan job desk-nya—bukanlah pemalas.

Baca Juga: Dampak Buruk Quiet Promotion, Ketika Tugas Tambahan Disebut sebagai Kesempatan untuk Belajar

Kemungkinan besar, mereka merasa “terjebak” di tempat kerja karena tidak mendapatkan arahan, pengakuan, atau motivasi yang dicari dari pemimpin, manajer, atau mentornya.

Peran pemimpin dalam keterlibatan karyawan di perusahaan

Sebuah survei Gallup baru-baru ini mengungkapkan betapa banyaknya karyawan yang tidak merasa terlibat di tempat kerja. Mereka secara aktif tidak terlibat dan kemungkinan besar sedang mencari pekerjaan lain.

Namun, masih banyak karyawan yang ingin terlibat di tempat kerja. Mereka ingin merasa memiliki tujuan, memahami peran dan tanggung jawabnya, memiliki jalur untuk maju dalam karir, dan percaya bahwa keterampilan dirinya selaras dengan hasil yang ingin dicapai.

Namun, menciptakan lingkungan kerja yang kondusif untuk hasil positif ini tentu saja membutuhkan kepemimpinan dengan niat dan empati.

Ketika para pemimpin secara aktif melibatkan karyawannya, mereka akan “membalas budi”, dan kinerjanya—baik secara individu atau pun dalam tim—akan meningkat.

Jadi, salah satu faktor yang dapat mencegah karyawan melakukan quiet quitting adalah peran dari pemimpin perusahaan. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

Baca Juga: Apa yang Dimaksud Quiet Promotion? Jangan Senang Dulu Kalau Kamu Menerimanya!

1. Berkomunikasi lebih awal, sering, dan transparan

Jika waktu peninjauan kinerja menjadi satu-satunya saat pemimpin dan karyawan mendiskusikan kemajuan dan tujuan, kemungkinan besar karyawan tersebut akan quiet quitting.

Tidak seorang pun ingin merasa terisolasi atau diabaikan. Jadi, jadwalkan sesi tatap muka secara teratur untuk mendiskusikan pekerjaan dan aspirasi karyawan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: QUARTZ

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X