kubikel

Penilaian 360 Derajat Kerap Dianggap Tidak Adil oleh Karyawan, Konon Bisa Jadi Ajang Balas Dendam. Benarkah?

Sabtu, 10 Mei 2025 | 10:17 WIB
360-degrees assessment kerap dianggap menjadi sarana balas dendam pribadi. (ruslanmarselin)

"Jika penilaian 360 derajat terkait dengan kompensasi, perusahaan membuat orang lebih memilih rekan kerja yang akan memberikan feedback positif. Ini bisa membuat orang mencoba mempermainkan sistem," katanya.

Harus ada aturannya

Jay Jones, SHRM-CP, dari Society for Human Resource Management (SHRM), mengatakan bahwa penilaian 360 derajat harus dilakukan pada tingkat tinggi agar efektif.

"Ini adalah salah satu cara terbaik untuk mendapatkan feedback dari staf, tetapi SDM perlu memastikan bahwa bias dan dendam pribadi tidak memengaruhi proses," katanya.

Jika tidak menerapkan langkah-langkah untuk mencegah hal-hal tersebut, maka kepercayaan dengan staf mudah patah.

Baca Juga: 8 Cara Menerima Penilaian Kinerja yang Kurang Memuaskan dengan Lebih Tenang dan Legowo

Jones menambahkan bahwa jika penilaian 360 derajat digunakan secara langsung untuk manajemen kinerja, maka jadikan itu hanya bagian dari penilaian dan bukan faktor penentu.

Lalu, ia mendorong perusahaan untuk melakukannya tepat waktu, jangan terpisah selama berbulan-bulan.

“Jika mendapatkan feedback beberapa bulan kemudian, karyawan bisa merasa marah dan kurang percaya, serta bertanya-tanya mengapa dirinya tidak cepat diberitahu agar bisa memperbaikinya,” katanya.

Masalah lain dari penilaian 360 derajat adalah kurangnya fokus untuk menindaklanjuti dan tindak lanjut yang tidak memadai sehingga karyawan merasa tidak ada gunanya memberikan feedback pada perusahaan. ***

Halaman:

Tags

Terkini