kubikel

Proses Perekrutan Sering Berlaku Kurang Adil pada Kandidat, Kepribadian Lebih Diutamakan daripada Kompetensi

Jumat, 30 Mei 2025 | 19:29 WIB
Dalam wawancara kerja, perekrut mungkin akan mengajukan pertanyaan untuk lebih memahami kepribadian kamu. (Freepik)

Pejuangkantoran.com - Dalam dunia kerja, proses perekrutan ternyata tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis kandidat. Namun, kepribadian pelamar yang ditangkap oleh pewawancara juga sangat berpengaruh.

Sebuah laporan terbaru dari Textio, platform yang membantu profesional SDM, mengungkapkan bahwa penilaian kepribadian sering menjadi faktor utama dalam menentukan kandidat yang akhirnya diterima bekerja.

Berdasarkan analisis terhadap lebih dari 10.000 hasil penilaian wawancara kerja terhadap sekitar 3.900 kandidat di Amerika Utara, ditemukan bahwa manajer perekrutan cenderung lebih menyoroti kesan pribadi.

Baca Juga: Fasilitasi Sertifikasi Halal bagi Pelaku Usaha oleh BRI Peduli Juga Mendorong Daya Saing UMKM

Sikap seperti keramahan, antusiasme, dan kepribadian yang menyenangkan, lebih dinilai dibandingkan keterampilan teknis yang relevan dengan pekerjaan.

Temuan ini mengindikasikan bahwa keputusan perekrutan cenderung dipengaruhi oleh rasa suka dan ketidaksukaan pribadi.

Kieran Snyder, salah satu pendiri Textio, menjelaskan bahwa bias ini sudah muncul sejak tahap awal proses perekrutan, bahkan terlihat jelas dari perbedaan cara perekrut menggambarkan pria dan wanita yang diwawancarai.

Perbedaan feedback berdasarkan gender

Feedback yang diterima oleh pria dan wanita setelah wawancara kerja ternyata sangat berbeda. Kandidat perempuan yang menerima tawaran kerja umumnya dipersepsikan sebagai sosok yang ceria, ramah, dan memiliki sikap sopan.

Sementara pria yang diterima lebih sering disebut sebagai orang yang berkepala dingin, percaya diri, dan kuat.

Baca Juga: Yuk, Belajar Jadi Penerjemah Karya Sastra di Program Laboratorium Penerjemahan Sastra!

Meskipun sikap ceria bukan hal yang buruk, tetapi sifat ini jarang dianggap sebagai kualitas yang membawa seseorang ke posisi pemimpin atau jenjang karir yang lebih tinggi.

Bersikap ramah selama ini malah bisa membatasi peluang karier, terutama bagi wanita yang sering dinilai lebih berdasarkan sifat ini.

Lauren Rivera, sosiolog dari Northwestern University, menambahkan bahwa wanita seringkali dinilai lebih berdasarkan kehangatan dan keramahan daripada kompetensinya.

Hal ini menciptakan dilema bagi wanita untuk menyeimbangkan antara dianggap ramah dan profesional.

Halaman:

Tags

Terkini