PejuangKantoran.com - Jika atasan atau rekan kerja bersikap pasif-agresif, ingat bahwa hal itu bukan salah kamu.
Perilaku pasif-agresif sebenarnya digunakan untuk memindahkan rasa frustrasi atau rasa tidak mampu mereka kepada orang lain. Tujuannya? Agar mereka tetap terlihat "berwibawa", tetapi tetap bisa menyalahkan orang lain dengan cara yang halus (tapi menyakitkan).
Berikut 10 tanda perilaku pasif-agresif yang dilakukan atasan atau rekan kerja pada kamu dan bagaimana cara menyikapinya agar terwujud lingkungan kerja yang sehat.
1. Memberi pujian yang menyindir
Rekan kerja mengatakan, "Wah, kamu kehilangan klien ya? Wow, kayaknya kamu bakal dapat bonus, nih." Itu tanda kamu sedang disindir dengan “pujian” yang menusuk.
Cara menghadapinya: Tanyakan langsung maksud ucapannya. Kadang, menyuruh mereka menjelaskan bisa membuat mereka gelagapan dan sulit menjawab.
2. Sarkasme yang berlebihan
Sedikit sarkasme bisa jadi lucu. Namun, kalau setiap omongan atasan isinya sindiran, kamu pasti bingung mana yang serius dan mana yang bercanda.
Cara menghadapinya: Sekali lagi, tanyakan langsung, “Maksud Bapak/Ibu bagaimana, ya?” Jangan terpancing emosi. Tetap tenang agar mereka sadar kamu butuh arahan, bukan sindiran.
Baca Juga: 15 Penghargaan FinanceAsia Award 2025 untuk BRI Buktikan Fundamental Bisnis yang Tangguh
3. Cuek dan meremehkan
Kalimat "Saya nggak punya waktu" atau "Coba baca ulang email saya” atau "Kamu harusnya sudah tahu, dong" merupakan bentuk penghindaran. Orang yang melakukannya tidak ingin menjelaskan, tetapi juga tidak mau kamu salah.
Cara menghadapinya: Kirim email pertanyaan secara tertulis, jelas, dan sopan sehingga kamu memiliki bukti dan mereka tidak bisa asal lempar tanggung jawab.
4. Bullying secara halus