kubikel

Talenta Digital Jadi Rebutan, Ini Profesi yang Paling Dibutuhkan di Indonesia Saat Ini

Kamis, 3 Juli 2025 | 08:05 WIB
Sangat boleh menolak tawaran bantuan dari rekan kerja jika itu yang kamu inginkan. Namun lakukan dengan baik. (Google Gemini)

PejuangKantoran.com - Kebutuhan akan tenaga kerja digital di Indonesia melonjak drastis. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat bahwa sejumlah sektor kini sangat membutuhkan intervensi digital untuk mendukung operasional dan pengembangan sistem kerja.

Hal ini sejalan dengan meningkatnya transformasi digital di berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga keuangan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komunikasi dan Digital, Boni Pudjianto, mengungkapkan bahwa sektor seperti pertanian, peternakan, perikanan, kesehatan, pendidikan, logistik, pariwisata, hingga fintech sedang mengalami kekurangan tenaga kerja digital.

Ia menyebut sektor pertanian sebagai salah satu yang paling mendesak mendapat dukungan teknologi dan SDM digital, agar lebih efisien dan produktif.

Baca Juga: 7 Tanda Perilaku Pasif-Agresif yang Sering Tak Disadari di Tempat Kerja, Bagaimana Cara Menghadapinya?

Menurut Boni, kebutuhan ini tidak bisa dipenuhi hanya dari tenaga kerja lokal di tiap wilayah, karena skema logistik dan operasional kini menuntut distribusi talenta secara lebih luas dan terintegrasi. Oleh karena itu, Komdigi menetapkan sektor-sektor tersebut sebagai prioritas intervensi pengembangan SDM digital.

Kesenjangan ketersediaan talenta digital masih cukup lebar. Data Komdigi mencatat, Indonesia membutuhkan sekitar 12 juta talenta digital hingga tahun 2030. Namun, hingga 2025 baru tersedia sekitar 6,9 juta orang. Artinya, masih ada kekurangan sekitar 2,7 juta talenta yang perlu dipenuhi dalam lima tahun ke depan, atau sekitar 450 ribu orang per tahun.

Sayangnya, distribusi talenta ini belum merata. Wilayah seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi daerah dengan kekurangan talenta digital tertinggi, sementara Jakarta justru mengalami kelebihan pasokan.

Baca Juga: Pendaftaran Beasiswa LPDP Tahap 2 Dibuka! Kesempatan Emas Raih Mimpi hingga ke Luar Negeri

Di sisi lain, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor tradisional seperti tekstil dan perhotelan turut memperparah situasi pasar tenaga kerja. Penyebabnya bukan hanya karena otomasi atau kecerdasan buatan, tapi juga karena permintaan produk menurun akibat pelemahan daya beli domestik dan efek dari perang tarif internasional.

Kondisi ini tercermin dalam penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia yang merosot di bawah angka 50 sejak April 2025. Ketika PMI turun, aktivitas produksi industri pun melemah, dan perusahaan akhirnya mengurangi jumlah tenaga kerja.

Kontras dengan itu, sektor digital justru berkembang. Job fair di berbagai kota diserbu oleh ribuan pencari kerja, seperti yang terjadi di Bekasi, di mana 25 ribu pelamar berebut 2.000 lowongan pekerjaan. Ini menunjukkan bahwa banyak orang kini mencari peluang baru di tengah minimnya lapangan kerja konvensional.

Dengan kondisi ini, pendidikan vokasi menjadi solusi yang diandalkan. Boni menekankan pentingnya pendidikan kejuruan karena mampu melahirkan lulusan dengan keterampilan yang siap diserap langsung oleh industri. Jika kekurangan ini tidak segera ditangani, maka peluang besar di sektor digital bisa saja diisi oleh tenaga kerja dari luar negeri.

Pemerintah dan industri kini dituntut untuk bersinergi mempercepat pembentukan ekosistem talenta digital nasional. Dalam dunia kerja yang berubah cepat, siapa yang lebih siap beradaptasi, dialah yang bertahan.

Tags

Terkini