Pejuangkantoran.com - Pernah dengar istilah “lazy girl job”? Tren ini sedang ramai di media sosial, khususnya di kalangan perempuan muda.
Namun, jangan salah paham dulu karena ini bukan berarti tren untuk mereka yang malas kerja.
Istilah ini sebenarnya menyindir budaya kerja yang sudah terlalu melelahkan. Mulai dari lembur terus-menerus, tekanan dari atasan tinggi, dan hidup yang cuma berputar di kantor saja.
Ini membuat para perempuan mulai bilang, “sudah cukup.”
Mereka lalu mulai mencari pekerjaan yang lebih santai, fleksibel, dan tetap bisa memberi penghasilan yang layak. Namun, mereka tidak harus harus mengorbankan kesehatan mental dan waktu hidup.
Perempuan ingin “work-life balance”, bukan “work-work-work”.
Berbeda dengan tren “quiet quitting” atau kerja secukupnya tanpa resign, para “lazy girl” ini justru aktif mencari pekerjaan baru.
Namun, yang dicari adalah pekerjaan yang tidak menyiksa, tidak harus lembur tiap hari, dan tidak harus terus mengikuti budaya kerja hustle yang kadang tidak sehat.
Baca Juga: Dilema Pekerja Perempuan saat Harus Memilih: Mau Disukai atau Dianggap Kompeten?
Mengapa banyak perempuan mulai bergerak?
Salah satu alasannya adalah kelelahan. Data menunjukkan bahwa perempuan pekerja lebih sering merasa lelah dibanding pria.
Misalnya saja di 2023, sekitar 33% perempuan merasa sangat sering kelelahan, dibandingkan 25% pria. Padahal, ini tidak hanya berlaku buat ibu-ibu yang punya anak, tetapi juga perempuan yang belum berkeluarga.
Pandemi COVID-19 makin memperlebar kesenjangan tersebut. Banyak perempuan harus mengurus pekerjaan dan tanggung jawab di rumah secara bersamaan.
Wajar saja kalau banyak dari mereka yang akhirnya mulai bertanya: “Sebenarnya kerja keras ini buat siapa, sih?”