Sementara itu, pekerja di lapangan seperti di pabrik atau toko hanya 9% yang menggunakan AI. Bahkan, angka tersebut lebih rendah dibanding dua tahun lalu.
Meski begitu, para peneliti juga mengingatkan bahwa studi ini hanya melihat penggunaan AI berbasis bahasa, seperti chatbot.
Padahal ada bentuk AI lain seperti yang digunakan dalam kendaraan otomatis juga bisa memengaruhi pekerjaan seperti sopir truk di masa depan.
Namun, banyak ahli menilai bahwa pekerjaan kerah biru sekarang semakin menarik.
Selain lebih stabil dan tahan terhadap gangguan AI, pekerjaan ini juga makin teknis dan membutuhkan keahlian khusus.
Misalnya, seorang tukang ledeng saat ini harus tahu cara mengoperasikan alat-alat yang cukup rumit, bukan cuma sekadar membetulkan pipa yang bocor.
Ravin Jesuthasan, seorang pakar masa depan dunia kerja, mengatakan bahwa peran AI membuat pekerjaan kantoran berubah drastis.
“Kalau kamu seorang tukang ledeng, sangat kecil kemungkinan AI bisa menggantikan kamu. Karena setiap rumah punya sistem pipa yang berbeda-beda dan robot belum cukup pintar untuk menyesuaikan diri,” jelasnya.
Daftar pekerjaan yang tak terpengaruh AI
Berikut ini adalah 10 pekerjaan yang paling kecil kemungkinan terkena dampak AI:
- Ahli flebotomi (pengambil sampel darah).
- Asisten perawat.
- Pekerja bahan berbahaya.
- Tukang cat, plester, dan pembantu bangunan.
- Pembalsem mayat.
- Operator pabrik.
- Dokter bedah mulut dan rahang.
- Pemasang dan perbaikan kaca mobil.
- Insinyur kapal.
- Tukang tambal dan ganti ban.
Jadi, meskipun teknologi terus berkembang, bukan berarti semua pekerjaan akan hilang.
Justru pekerjaan yang membutuhkan keterampilan fisik dan teknis bisa jadi pilihan karir yang menjanjikan di masa depan. ***