“AI akan mengambil alih tugas-tugas berulang sehingga mereka bisa fokus pada masalah yang lebih kompleks.”
Covisian juga memanfaatkan pendekatan ini di call center-nya. AI membantu memproses penyelesaian masalah pelanggan, sementara agen manusia fokus pada interaksi langsung.
Baca Juga: Investor Newbie Mesti Tahu Beda Reksa Dana dan Saham, Apa Keuntungan dan Risikonya?
Tetapi, perusahaan tetap melatih agen agar memahami teknologi yang mereka gunakan.
“Kami mengembangkan AI dengan mempertimbangkan bahwa agen manusia akan menggunakannya. Tapi kami juga perlu mengembangkan agen tersebut agar tahu cara memanfaatkan teknologi ini,” jelas Fabio.
Namun, integrasi ini bukan tanpa hambatan. HR dan IT punya cara kerja berbeda, di mana HR punya keterampilan mendengar, sedangkan IT lebih fokus pada teknis dan kurang berbicara dalam bahasa non-teknis.
Untuk itu, Covisian menunjuk pemimpin tim yang netral untuk menjembatani perbedaan tersebut.
Tidak menghapus identitas profesi
David D’Souza, Direktur Profesi di badan profesional untuk HR, CIPD, mengingatkan bahwa menyatukan kedua divisi ini memang mendorong kolaborasi, tetapi tetap ada risiko kehilangan kedalaman keahlian jika tidak hati-hati.
Meski menggabungkan HR dan IT akan sangat bermanfaat, keduanya tetap memerlukan keahlian khusus masing-masing. AI seharusnya menjadi alat untuk memperkuat sinergi, bukan menghapus identitas profesi.
Baca Juga: Jejak Digital Sulit Dihapus! Fitur Baru ChatGPT Bikin Ribuan Percakapan Pribadi Bocor di Google
"Kolaborasi yang lebih besar antara HR dan IT memang masuk akal dengan memanfaatkan kekuatan masing-masing disiplin ilmu.
“Tetapi menggabungkan departemen akan berisiko kehilangan atau melemahkan keahlian spesialis yang dibutuhkan organisasi untuk berkembang," tutur D’Souza.
Pada akhirnya, baik di Bunq maupun Covisian, AI tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk bekerja dengan cara yang benar-benar baru.