Google dulu menjadi mesin pencari utama, tapi data Bospar menunjukkan banyak orang (hampir setengah responden) percaya AI bakal menggantikan Google sepenuhnya sebelum 2030. Gen Z bahkan lebih yakin lagi.
Bos-bos menyukai efisiensi, dan AI memberikan jawaban langsung, bukan sekadar link. Jadi kalau brand kita tidak muncul di jawaban AI, bisa jadi invisible.
“Generative Engine Optimization (GEO) itu frontier baru. Kalau brand kamu tidak muncul saat eksekutif bertanya oada AI, berarti kamu sudah ketinggalan,” timpal Ramon Ray, pendiri ZoneofGenius.com.
4. Bos-bos menggunakan AI Spesialis
Meski ChatGPT populer, para chief ternyata suka pindah-pindah platform tergantung kebutuhan. Copilot dipilih karena integrasi enterprise, DeepSeek untuk mencari hal-hal teknis, sedangkan Perplexity untuk riset akademis.
Hampir setengah responden rajin cross-check antar platform. Artinya, kalau mau muncul di radar mereka, strategi GEO harus lintas platform, nggak bisa cuma mengandalkan satu.
5. Sumber yang kredibel jadi kunci
AI pintar karena belajar dari sumber yang dipercaya. Studi Bospar menunjukkan, sumber yang paling banyak dikutip AI adalah riset akademis, publikasi industri, dan media besar. Artinya, brand harus rajin muncul di tempat-tempat kredibel itu. Kalau tidak, ya siap-siap hilang dari percakapan.
AI menjadi gerbang baru dunia bisnis
Jadi, eksekutif lebih cepat mengadopsi AI karena butuh keputusan cepat, sumber terpercaya, dan rekomendasi yang jelas. Dari strategi vendor sampai belanja besar, AI sekarang jadi gatekeeper utama.
Studi Bospar juga membuat satu pesan penting: kalau perusahaan tidak masuk ke jawaban AI, kemungkinan besar tidak akan masuk ke radar eksekutif sama sekali.
Seperti yang dikatakan Ramon Ray, “Di era AI, kredibilitas bukan lagi soal klik, tapi soal jadi jawaban yang dipercaya.”
Jadi, mau tidak mau (siap tidak siap), strategi marketing kamu sekarang tidak hanya harus memikirkan SEO tetapi juga GEO, Generative Engine Optimization.