Pejuangkantoran.com - Beberapa tahun terakhir, cara perusahaan merekrut karyawan berubah drastis.
Kalau dulu wawancara dilakukan tatap muka dengan panel pewawancara, sekarang mulai banyak proses yang beralih ke video call atau bahkan wawancara otomatis dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Meski AI dipakai, sering kali bukan AI yang sepenuhnya menggantikan pewawancara manusia.
Wawancara seperti ini biasanya dalam bentuk wawancara video yang sudah direkam (asynchronous video interview), interview awal atau skrining, atau assessment berbasis permainan (gamified assessment).
Setelah itu, manusia tetap mengambil alih dalam tahap berikutnya.
Masalah bias, interpretasi perilaku nonverbal, privasi, dan transparansi adalah isu yang kerap muncul ketika memanfaatkan AI sebagai “pewawancara”.
Beberapa perusahaan/diskusi publik mengkritik bahwa AI bisa kurang adil terhadap kandidat yang memiliki aksen, latar budaya berbeda, atau gaya komunikasi yang berbeda.
Oleh karena itu, bagi sebagian orang, hal ini bisa terasa aneh. Bagaimana mungkin “jadi diri sendiri” kalau lawan bicara kita bukan manusia, melainkan layar atau sistem AI?
Nah, berikut beberapa tips agar kamu bisa tampil maksimal dan tetap autentik dalam wawancara online atau wawancara berbasis AI.
- Jangan takut dengan AI
Memang terdengar menyeramkan kalau sistem yang dihadapi akan menilai gerakan, nada suara, sampai ekspresi wajah kamu.
Namun, harus diingat bahwa AI dibuat untuk mengurangi bias manusia, bukan untuk menjatuhkan.
Perlakukan kamera seperti orang sungguhan. Caranya dengan menatap lensa seolah-olah sedang kontak mata dengan manusia dan tetap duduk dengan tenang.
- Latihan secukupnya
Persiapan itu penting, tetapi jangan sampai jawaban kamu terdengar seperti robot.