Pejuangkantoran.com - Bagi kamu yang baru mulai terjun ke dunia kerja, mungkin kamu juga merasakan tantangannya. Dunia kerja sekarang bergerak sangat cepat, tuntutannya tinggi, dan teknologi seperti kecerdasan buatan mulai mengambil banyak peran.
Di tengah perubahan ini, banyak pekerja muda yang merasa belum sepenuhnya siap. Sementara banyak perusahaan menilai kalau kemampuan dasar para fresh talent masih perlu banyak diasah.
Menurut laporan dari General Assembly, sebagian besar pemimpin perusahaan menilai pekerja tingkat pemula belum cukup siap menghadapi dunia kerja.
Hanya sedikit yang dianggap benar-benar siap, sedangkan sisanya masih beradaptasi dengan tuntutan baru di tempat kerja.
Kebanyakan merasa kesulitan bukan karena kemampuan teknis, tetapi karena kurangnya soft skill seperti komunikasi, kerja sama, dan cara berpikir kritis.
Padahal, kemampuan ini sangat penting untuk kamu yang ingin dapat beradaptasi dengan ritme kerja yang cepat dan lingkungan yang penuh kolaborasi.
Menariknya, para pekerja juga menyadari hal yang sama. Banyak yang mengaku masih belum percaya diri karena belum terbiasa menghadapi situasi kerja yang menuntut komunikasi dan kerja tim yang kuat.
Namun, ketika bicara soal siapa yang seharusnya bertanggung jawab untuk mengembangkan kemampuan ini, perusahaan dan karyawan sering punya pandangan berbeda.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan 20.000 Kuota Magang Nasional untuk Fresh Graduate dengan Gaji Setara UMP
Siapa yang bertanggung jawab untuk mengasah keterampilan?
Sebagian besar pemimpin perusahaan merasa kalau tanggung jawab utama untuk belajar dan berkembang ada pada diri karyawan. Namun, di sisi lain banyak pekerja merasa pelatihan dari kantor belum cukup membantu mereka untuk tumbuh.
Padahal sebagian besar pemimpin yakin bahwa pelatihan yang mereka berikan sudah sesuai kebutuhan.
Belum lagi kehadiran kecerdasan buatan atau AI (artificial intelligence) yang juga menambah tantangan baru. Banyak pekerja muda yang mulai khawatir karena AI dapat mengambil alih sebagian besar pekerjaan tingkat pemula.
Jika perusahaan tidak ikut berinvestasi dalam pelatihan dan pengembangan kemampuan, kesenjangan skill bisa semakin besar di masa depan.