kubikel

Post-holiday Turnover, Resign Setelah Liburan. Apa yang Bisa Dilakukan Karyawan dan Atasan?

Minggu, 12 Oktober 2025 | 14:46 WIB
Waspadai post-holiday turnover, ada hal penting yang harus dilakukan oleh karyawan dan atasan. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com - Siapa yang pernah habis liburan malah makin malas kerja? Tenang, kamu tidak sendirian. Ternyata, menurut survei global ada 40% profesional mengaku sulit kembali semangat setelah liburan dan 25% bahkan mulai berpikir ganti kerja atau ganti karier.

Fenomena ini disebut post-holiday turnover, yaitu momen berbahaya saat karyawan paling rentan kehilangan motivasi, bahkan berniat resign.

Bagaimana bisa? Ternyata, karena saat liburan sering jadi ajang refleksi. Lagi rebahan sambil ngopi di pantai, tiba-tiba muncul pertanyaan, “Gue beneran mau kerja di tempat ini terus?”

Atasan harusnya peka

Menurut para ahli, masa setelah liburan adalah waktu emas buat perusahaan dan HR untuk kembali “menyalakan” semangat karyawan. Kalau masa krusial ini dilewatkan begitu saja, siap-siap kehilangan talenta terbaik.

Alih-alih langsung disambut dengan email menumpuk, deadline, dan meeting dadakan, karyawan sebenarnya cuma butuh sedikit empati dan perhatian manusiawi.

Baca Juga: Jangan Sungkan Ambil Cuti Sakit, Ini Bukan Tanda Lemah Melainkan Cara Merawat Diri Sendiri

Beberapa pemimpin HR dari perusahaan global berbagi cara menyambut tim yang baru balik cuti.

  1. Jangan balik kerja tanpa persiapan

Sebelum cuti, rapikan dulu pekerjaan kamu. Tandai email penting, atur reminder, dan pastikan ada orang yang bisa jadi backup. Jadi pas balik, kamu tidak panik melihat inbox email yang sangat banyak.

“Kalau semua sudah kamu siapkan sebelum cuti, kamu bisa benar-benar liburan tanpa overthinking,” kata Rachel Galloway, HR Business Partner di Eaton Manufacturing.

  1. Mulai hari pertama dengan mengobrol, bukan langsung kerja

Atasan yang baik tidak akan langsung tanya tentang update pekerjaan, tetapi bisa dengan bertanya, Liburan kamu gimana?

“Bertanya hal sederhana seperti itu bisa membangun rasa aman dan kepercayaan,” kata Al Goel, mantan eksekutif Sanofi dan Deloitte.

Baca Juga: 6 Etika Out of Office yang Tepat saat Cuti, Supaya Tidak Terus-Terusan Dapat Email dari Kantor

  1. Liburan bagian dari kerja, bukan pelarian

Menurut Andy Dowling, CEO The Colour Works, perusahaan harus melihat cuti bukan sebagai gangguan, tetapi bagian dari strategi kerja. Jadi, sebelum cuti komunikasi harus jelas agar saat kembali tidak membuat stress.

Halaman:

Tags

Terkini