Pejuangkantoran.com - Pernahkah kamu merasa jenuh dengan pekerjaan sekarang dan berpikiran untuk ganti pekerjaan. Ini biasanya karena kamu merasa pekerjaan yang sekarang begitu-begitu saja atau ada kecenderungan mulai jarang dipakai atau dilibatkan dalam proyek di kantor.
Jika pernah, hal tersebut bukan hal yang berlebihan. Ganti pekerjaan, baik di dalam perusahaan atau resign dari perusahaan itu namanya pivot.
Pivot dalam konteks karier adalah mengubah arah atau fokus karier tanpa benar-benar memulai dari nol. Jadi bukan seratus persen berganti pekerjaan, namun lebih tepatnya pegeseran strategi profesional, alias pekerjaan yang baru masih relate dengan pekerjaan lama.
Apa sebenarnya pemicu terjadinya pivot dalam karier? Pemicunya sebenarnya bisa dilihat dengan dua perspketif besar, yaitu internal dan eksternal:
Pemicu internal:
- Kejenuhan atau kehilangan makna kerja: Karyawan merasa sudah tidak bisa berkembang di Perusahaan tersebut.
Terjadi ketika pekerjaan lama tidak lagi memberi tantangan atau makna pribadi. - Perubahan nilai hidup atau prioritas pribadi: Ada orang yang ingin waktu lebih fleksibel, pekerjaan lebih bermakna sosial, atau ingin seimbang dengan kehidupan keluarga.
- Kebutuhan aktualisasi diri: Potensi yang selama ini dimiliki belum terpakai sehingga mendorong untuk menggunakannya.
- Keinginan memanfaatkan keterampilan baru: Ketika mendapatkan keterampilan baru (misalnya teknologi, komunikasi digital), seseorang ingin beralih ke bidang yang lebih relevan dengan kompetensi barunya tersebut.
Baca Juga: 7 Ciri Kamu Sudah Jenuh dengan Pekerjaan, Beberapa Contohnya: Kerja Seadanya dan Sibuk Cari Lowongan
Pemicu eksternal:
- Perubahan industri atau teknologi: Seperti yang kita alami sekarang, digitalisasi sudah mengubah cara orang bekerja, misal belajar-mengajar jarak jauh, meeting online yang terasa lebih efektif, sistem organisasi pekerjaan secara online, dan sebagainya.
- Restrukturisasi organisasi / kehilangan pekerjaan: Lingkungan kerja berubah drastic sehingga mendorong orang melakukan pivot.
- Peluang baru yang lebih menarik: Misalnya tawaran proyek, kolaborasi, atau peluang wirausaha yang sesuai dengan pengalaman lama.
- Krisis atau momen hidup penting: Contohnya pandemi, pensiun dini, atau perubahan kesehatan yang memaksa mencari arah baru.
Ini artinya, seorang yang melakukan pivot dalam kariernya, tetap masih akan menggunakan keterampilannya di pekerjaan lama.
Contoh, seorang jurnalis yang beralih profesi menjadi content strategist di perusahaan teknologi. Ia masih tetap akan memakai keterampilan menulis dan riset, namun konteks kerjanya yang berubah.
Contoh lain, seorang guru yang berpindah karier menjadi trainer untuk korporat. Ia tetap mengajar, namun audiens dan tujuannya berbeda.
Jadi, ketika melakukan pivot dalam karier, punya ciri-ciri sebagai berikut:
- Masih ada benang merah antara karier lama dan yang baru.
- Tujuan strategis: bukan karena gagal, tapi karena ingin bertumbuh atau menyesuaikan arah.
- Dilakukan dengan perencanaan: memetakan keterampilan yang bisa ditransfer (transferable skills).
Nah, apabila kamu merasakan apa yang ada dalam daftar pemicu tadi, tidak ada salahnya kamu berkonsultasi dengan HR dan atasan di mana kamu bekerja. Sampaikan apa yang kamu rasakan.
Sebuah perusahaan yang memang menjadikan sumber daya manusia sebagai salah satu aset penting, pasti akan melihat apa potensimu yang belum terpakai untuk kepentingan perusahaan dan bisa dialihkan ke divisi apa.